Seberapa Siap Industri Pariwisata Memasuki Era New Normal?

Klikhijau.com – Industri pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul selama penyebaran covid-19. Pariwisata tidak hanya lumpuh total, tetapi juga mengalami banyak kerugian. Tak cukup sampai di s...

Seberapa Siap Industri Pariwisata Memasuki Era New Normal?
Bacakan Artikel

Terdapat juga catatan lain, kata Sofyan, bahwa jumlah hotel dan restoran yang berhenti menjalankan usahanya, secara berurutan, mencapai lebih dari 2000 dan lebih dari 8000.

“COVID-19 juga menggeser cara konsumsi orang ke arah daring, perilaku ini diprediksi akan menjadi kebiasaan baru orang-orang pasca pandemi,” kata Sofyan.

Meski demikian, sebagai negara dengan sumber ekonomi yang kuat, Sofyan optimis Indonesia memiliki peluang yang besar untuk bisa kembali mengembangkan sektor pariwisata. Sayangnya, stimulus ekonomi dari pemerintah tidak menyentuh sektor pariwisata.

Stimulus dan dukungan pemerintah

Mengenai stimulus, H. Syaiful Huda (Ketua Komisi X DPR RI) juga menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai tidak memberikan respon penting berkaitan dengan penyelamatan dunia pariwisata.

“Tanda pertama ketidakpedulian itu berkaca dari pemotongan dana Kemenparekraf yang mencapai lebih dari Rp 2 triliun. Hal ini tidak responsif, mengingat adanya 18 juta orang di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak,manakala pemerintah tidak memperlihatkan keberpihakannya,” tegas Syaiful Huda.

Syaiful Huda berharap dalam menghadapi masa pemulihan, pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang konkrit. Semisal memberikan ruang fiskal yang lebih.

“Stimulus juga penting untuk bisa menolong pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif menengah ke bawah. Selain itu, opsi menggenjot wisatawan lokal adalah yang paling rasional untuk memulai fase recovery sektor pariwisata,” lengkapnya.

R. Kurleni Ukar, Deputi Bidang Kebijakan Strategis, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (BAPAREKRAF) juga mengakui pentingnya stimulus untuk memulihkan wisata domestik.

Sejauh ini, pihaknya telah melakukan banyak program strategis untuk normalisasi. Diantaranya dengan meningkatkan safety dan security, serta melakukan promosi seperti memberikan diskon, insentif, dan paket promosi wisata.

“Salah satu bentuk promosi yang dilakukan Kemenparekraf adalah dengan mengeluarkan jargon InDOnesia CARE (I DO CARE) yang mengutamakan kebersihan, kesehatan, dan keamanan. Kampanye lain yang dilakukan Kemenparekraf adalah memunculkan tagar #DiIndonesiaAj,” kata Kurleni.

Adaptasi di era new normal

Bagaimana membangkitkan kembali pariwisata di era normal? Menurut Rianto Sofyan, ada tiga faktor penting untuk kembali menjalankan sektor pariwisata, yaitu new business model, health protocol, dan external risk.

“Hal itu disambung dengan langkah strategis yang bisa diterapkan. Misalnya, membuat save travel protocol Indonesia atau traumatic recovery program. Yakni dengan membuat produk atau jasa yang dapat segera dibutuhkan pasar, melakukan digitalisasi, hingga membuat program mitigasi ‘Siap Siaga Pariwisata’.” Pungkas Sofyan.

Sejauh ini, Kemenparekraf juga mengaku telah memiliki beberapa skenario dalam menghadapi krisis kepariwisataan.

Diantaranya dengan fokus mengedukasi masyarakat agar tidak terjadi penolakan terhadap wisatawan yang masuk ke wilayah Indonesia.

”Kemenparekraf juga membuat protokol kesehatan tentang Standar Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Protokol ini juga akan dibuat turunan penerapannya,” jelas R. Kurleni Ukar, Deputi Bidang Kebijakan Strategis, BAPAREKRAF.

Kemenparekraf akan merujuk pada rekomendasi pemulihan dari UNWTO, salah satunya adalah membuka perbatasan secara bertanggung jawab.

Selain itu, Kemenparekraf juga menerapkan strategi adaptif untuk tahap recovery dari pandemi. Yakni dengan mengedepankan manusia sebagai prioritas, mengaktifkan kanal komunikasi recovery yang efektif, memberikan stimulus permintaan, fokus pada destinasi utama dan mengutamakan wisatawan domestik serta fokus pada bidang usaha parekraf yang sesuai dengan potensi daerah.

Semoga sektor ini segera berbenah, semakin banyak orang merindukan nikmatnya melancong di destinasi wisata khususnya wisata alam.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2