Kota dan Tumpukan Sampah di antara Lapis-lapis Kesadaran

Klikhijau.com - Manusia berkesadaran, hidup dalam berlapis-lapis pertanyaan tentang yang telah, sedang, dan akan terjadi. Pertanyaan itu merupakan wajah peredaran waktu di masa lalu, kini dan akan dat...

Kota dan Tumpukan Sampah di antara Lapis-lapis Kesadaran
Bacakan Artikel
Ishak Andi Kunna

Birokrat dan praktisi lapangan di bawah kementerian kehutanan, menjabat sebagai Kepala Manggala Agni Daops Sulawesi I

Klikhijau.com - Manusia berkesadaran, hidup dalam berlapis-lapis pertanyaan tentang yang telah, sedang, dan akan terjadi. Pertanyaan itu merupakan wajah peredaran waktu di masa lalu, kini dan akan datang.

Saat menyusuri jalan di perkotaan Makassar yang padat merayap, pandangan mata dimanjakan oleh deretan bangunan gedung. Ia menampilkan arsitektur yang beraneka rupa. Di sana ada gedung pendidikan, perkantoran, kawasan industri, rumah toko. Tak hanya itu, Kota Makassar punya wajah lain dengan gerobak kaki lima yang rata-rata beredar di malam hari.

Pada ruang lainnya, kita pun akan disuguhkan dengan dominasi transportasi mobil dan motor.  Di sepanjang jalanan, kendaraan seolah berlomba memadati jalan yang kian sempit. Tapi, entah jalan yang kian sempit atau kendaraan yang telalu banyak? Mungkin demikian memang kota yang tak menyediakan mode transportasi umum. Wajah-wajah itu, semuanya  dikemas dalam desain modernisasi. Sebuah zaman yang (tak sepenuhnya) maju. Di baliknya ada paradoks.

Lihatlah, di antara padat kendaraan, asap dari cerobong knalpot menguap di udara. Ia menjadi polusi. Yang lain,  antrian panjang kendaraan saling mendahului di tengah kemacetan. Di pinggir jalan,  tumpukan sampah yang melepas gas-gas metan dan aroma khas; busuk.

Sampah dan kita

Perihal sampah, sebagaimana akan diulas dalam tulisan ini. Tema sampah sengaja saya pilih untuk turut serta memaknai Hari Peringatan Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2023 yang dirayakan belum lama ini.

Dulu, seorang kawan satu kontrakan, Ardi, pernah berkata, “Bang, pembungkus mie instan itu bukan sampah ketika ia masih berguna".

Ardi ada benarnya juga. Apa pun itu akan menjadi sampah ketika dengan sadar kita tidak mengfungsikannya. Termasuk pikiran dan rasa.

Coba dibayangkan, bagaimana kita menyiasati hasil belanja untuk kebutuhan sandang dan papan di pasar tradisional? Dapatkah kita mengemas ikan cakalang dan ikan teri basah tanpa membiarkan tetesan darahnya mengenai pakaian kita dan belanjaan lainnya.

Sampai hari ini, pertanyaan di atas masih sulit untuk dijawab. Sehingga di tengah kerumitan itu, hadirnya kantong kresek plastik tetap menjadi pilihan utama bagi emak-emak berdaster yang mengemas ikan, sayur, singkong, sagu, timba plastik, panci dan sendal jepit dalam satu waktu dan tempat.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2