Kota dan Tumpukan Sampah di antara Lapis-lapis Kesadaran

Klikhijau.com - Manusia berkesadaran, hidup dalam berlapis-lapis pertanyaan tentang yang telah, sedang, dan akan terjadi. Pertanyaan itu merupakan wajah peredaran waktu di masa lalu, kini dan akan dat...

Kota dan Tumpukan Sampah di antara Lapis-lapis Kesadaran
Bacakan Artikel
Ishak Andi Kunna

Birokrat dan praktisi lapangan di bawah kementerian kehutanan, menjabat sebagai Kepala Manggala Agni Daops Sulawesi I

Di sepanjang jalan, mudah kita menjumpai kemasan plastik yang berceceran, juga semudah kita melihat tumpukan sampah di komplek-komplek perumahan atau terpajang di areal parkiran rumah toko, terlebih di pasar.

Plastik yang beraneka rupa dan bentuk menemani keseharian kita yang sibuk dalam setiap urusan. Belum lagi, jika ditambah dengan persoalan hidup yang tidak kunjung usai. Tentu, di situasi ini, kita menjadi begitu rentan untuk mengidap penyakit lupa dan tidak peduli akan hal-hal di luar diri kita. Begitu pula plastik yang tidak berguna lalu dibuang menjadi tumpukan sampah.

Dalam zaman kekinian ini, kita hidup melebur dan menyatu dengan segala bentuk keseharian. Kecanggihan teknologi membuktikannya melalui kecepatan transfer data, suara juga uang. Dan di sisi lain, percepatan teknologi juga membuktikan bahwa perasaan cemas, gelisah, tekanan dan ketakutan itu semakin tidak berjarak dalam keseharian kita.

Mungkin kita bertanya, lantas apa yang harus kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya?

Manusia dan kebersadaran

Manusia sebagai mahluk berkesadaran dan penuh cinta telah teruji untuk bagaimana hidup menyatu dengan alam kemudian menciptakan keseimbangan.

Mencintai alam dan lingkungan bukan lah semata jargon yang diteriakkan. Tapi bagaimana ia menjadi laku dalam keseharian, jika dilakukan secara terus menerus maka akan meniscayakan budaya dalam perilaku.

Mari kita mulai dengan menyiapkan tempat sampah, kemudian memilah jenis sampah organik dan anorganik. Selanjutnya perlahan dan pasti, kita mulai memahami istilah Tiga R yakni Reduce, Reuse dan Recycle.

Pemahaman itu menghantar kita bertindak untuk menangani sampah dengan cara mengurangi penggunaannya, tidak membuangnya jika masih bisa di gunakan kembali dan bagaimana didaur ulang agar produksi sampah berkurang.

Dalam perjalanan pulang, saya teringat seorang kawan yang meyakini bahwa dua hal yang tidak bisa berubah dalam diri manusia, yakni fitrah dan insting.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2