Dinilai Tetap Eksploitasi Batubara, 'Green Initiatives' Adaro Dipertanyakan

Klikhijau.com -Bersamaan dengan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) produsen batubara terbesar kedua di Indonesia, Adaro Energy, sejumlah aktivis melakukan aksi damai di depan gedung kantor A...

Dinilai Tetap Eksploitasi Batubara, 'Green Initiatives' Adaro Dipertanyakan
Bacakan Artikel

Tahun lalu, perusahaan pertambangan batubara terbesar dalam grup Adaro Energy, PT Adaro Indonesia, berkontribusi sebesar 87 persen dari total pendapatan grup Adaro Energy. PT Adaro Indonesia menjalankan operasi pertambangan batubara di Kalimantan Selatan di bawah naungan PKP2B yang berlaku sampai tahun 2022.

“Bank yang terlibat dalam pendanaan Adaro Energy, akan terpapar risiko reputasi sebagai bank yang mendanai salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global. Investor Adaro Energy harus mendorong Adaro Energy untuk mengembangkan rencana strategis dengan target batas waktu yang terukur untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap batubara dan akhirnya keluar dari bisnis batubara,” tegas Binbin Mariana, Southeast Asia Energy Finance Campaigner dari Market Forces.

Masyarakat semakin cerdas

Pius Ginting, koordinator perkumpulan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat menambahkan, tren produksi Adaro Energy yang terus meningkat selama tahun 2016-2020 bertentangan dengan amanat RUEN 2017 yang mengharuskan produksi batubara diturunkan dari 461,6 juta ton tahun 2015 menjadi maksimal 400 juta ton tahun 2019.

Jadi proporsi investasi Adaro Energy, kata Pius, belum ada transformasi signifikan ke energi non-batubara.

“Adaro Energy adalah satu dari 100 perusahaan di dunia yang bertanggung jawab atas 71 persen emisi global. Dukungan pembiayaan terhadap Adaro Energy sama dengan investasi memastikan krisis iklim. Saat ini, dunia telah meninggalkan energi fosil,” jelas Team Leader 350.org, Sisilia Nurmala Dewi.

Menurut Sisilia, masyarakat Indonesia terutama anak muda sudah semakin cerdas terhadap bahaya krisis iklim. Tidak perlu seorang jenius untuk melihat sentimen pasar yang haus akan pembangunan berkelanjutan.

“Bank dan investor harus memilih apakah akan membangun untuk keselamatan umat manusia atau menyelamatkan elit batubara. Kami menunggu komitmen institusi keuangan dan para investor untuk segera berhenti mendanai energi fosil,” tutupnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2