Dinilai Tetap Eksploitasi Batubara, 'Green Initiatives' Adaro Dipertanyakan

Klikhijau.com -Bersamaan dengan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) produsen batubara terbesar kedua di Indonesia, Adaro Energy, sejumlah aktivis melakukan aksi damai di depan gedung kantor A...

Dinilai Tetap Eksploitasi Batubara, 'Green Initiatives' Adaro Dipertanyakan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com -Bersamaan dengan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) produsen batubara terbesar kedua di Indonesia, Adaro Energy, sejumlah aktivis melakukan aksi damai di depan gedung kantor Adaro Energy pagi ini.

Elok Faiqotul Mutia, Direktur Eksekutif Enter Nusantara, menyatakan “Aksi ini bagian dari upaya menghentikan penggunaan energi kotor dan mendesak investor dan lembaga jasa keuangan yang selama ini mendukung bisnis batubara untuk tidak terbuai dengan rencana Green Initiatives Adaro Energy yang terkesan sebagai upaya Greenwashing.”

“Pernyataan CEO Adaro Energy, Garibaldi Thohir, terkait rencana perusahaan untuk melakukan diversifikasi ke arah green energy patut dipertanyakan. Karena sejauh ini tidak ada strategi jelas yang tertuang dalam publikasi perseroan,” ujar Andri Prasetiyo, Peneliti Trend Asia.

Lebih lanjut Andri mengatakan, Green Initiatives yang digaungkan Adaro saat ini hanya sebatas narasi semu untuk membangun citra baik perusahaan. Sebab, pada saat yang sama Adaro tetap berupaya mencari pinjaman US$400 juta untuk menutupi utang jatuh tempo agar tetap dapat melakukan eksploitasi energi kotor batubara.

Adaro Energy, melalui anak usahanya PT Adaro Indonesia, memiliki pinjaman sindikasi dengan plafon US$1 miliar yang akan jatuh tempo pada Agustus 2021. Bank-bank yang sebelumnya terlibat dalam pinjaman tersebut adalah ANZ, Standard Chartered, HSBC, Citigroup, CIMB, Maybank, DBS, OCBC, UOB, MUFG, SMBC, Mizuho, ING Bank, dan Bank Mandiri.

Sejatinya bisa beralih dari batubara

Dalam laporan tahunannya, Adaro Energy menyebutkan bahwa pertambangan batubara masih merupakan DNA grup dan menargetkan volume produksi batubara sebesar 52-54 juta ton, sebanding dengan produksi mereka tahun lalu.

Adaro Energy memiliki cadangan batubara sebesar 1.1 miliar ton, jika batubara tersebut dibakar maka akan menghasilkan emisi sebesar 2.2 GtCO2-e. Sekjen UN, Antonio Guterres, menyatakan bahwa dunia harus segera berhenti menggunakan batubara untuk dapat mencapai target global membatasi kenaikan temperatur di bawah 1.5°C.

“Batubara telah terbukti menjadi pembunuh senyap dan mematikan bagi masyarakat sekitar PLTU. Contohnya di wilayah Jabodetabek. PLTU batubara dalam radius 100 km dari Jakarta bertanggung jawab atas sekitar 2.500 kematian dini4 di wilayah Jabodetabek, dengan biaya tahunan yang ditimbulkan mencapai 1,5 triliun rupiah per tahun,” tegas Tubagus Soleh Ahmadi, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta.

Adaro Energy juga mengasumsikan permintaan batubara akan tetap stabil untuk lima tahun ke depan. Padahal, berdasarkan analisis International Energy Agency, dalam skenario di mana ekonomi global kembali ke level sebelum pandemi, permintaan batubara global tidak akan kembali ke level sebelum pandemi.

Negara-negara target ekspor batubara Adaro Energy, seperti Korea Selatan, China dan Jepang, juga telah menyatakan target nol emisi, sehingga diperkirakan akan mengurangi permintaan batubara dari negara-negara tersebut.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2