Seringnya Bencana Terjadi di Indonesia Akibat Perubahan Iklim
Klikhijau.com - Pergantian tahun 2019 ke 2020 ini disambut dengan kabar tentang bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Itu terjadi di berbagai daerah seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Kabupat...
Klikhijau.com - Pergantian tahun 2019 ke 2020 ini disambut dengan kabar tentang bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Itu terjadi di berbagai daerah seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Kabupaten Lebak, dan Provinsi Banten.
Beberapa daerah di Sulawesi juga terkena musibah. Bencana angin puting beliung yang terjadi di Bantaeng misalnya, sejumlah bangunan mengalami kerusakan.
Daerah lain seperti Sukabumi, Bandung, Bogor, Cirebon, Aceh, dan Jawa Tengah juga mengalami bencana ini.
Puluhan orang meregang nyawa dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi akibat banjir dan angin puting beliung.
[irp]
Belum lagi bencana tanah longsor yang terjadi di banyak wilayah. Begitupun dengan kebakaran hutan dan lahan (kerhutla), serta abrasi dan gelombang pasang.
Menurut data dari BNPB, terjadi 203 bencana di Indonesia selama periode 1 Januari hingga 20 Januari 2020. Bencana terbanyak terjadi di Pulau Jawa.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, curah hujan dengan intensitas lebih dari 150 mm/hari dengan durasi panjang selama pergantian tahun. Hujan ini turun cukup merata di DKI Jakarta dan sekitarnya.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, hujan akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020 ini merupakan curah hujan tertinggi sejak tahun 1900.
Menurutnya, hal itu menunjukkan tren naiknya curah hujan yang intensitasnya makin lama makin tinggi.
Frekuensi intensitas tinggi itu makin sering selama 30 tahun terakhir. Sementara kenaikan suhu udara juga sama. Dari tahun 1960 sampai 30 tahun setelah itu, sampai di tahun 2015, ada kenaikan sekitar 1 derajat celsius.
Menurut ilmu iklim, kenaikan itu berkorelasi dengan terjadinya perubahan iklim global. Para pakar mengatakan bahwa kondisi sekarang ini indikasi perubahan iklim global itu terjadi.
Adanya suhu yang meningkat dan menyebabkan adanya hujan ekstrem sering terjadi dengan intensitas tinggi. Begitu kata Dwikorita dikutip dari VIVAnews.
Dwikorita menyebut, jika kerusakan lingkungan terus terjadi maka trennya akan naik terus. Kita akan sering menghadapi peristiwa bencana itu ke depan.
Karena itu ia berpesan agar peduli terhadap perubahan iklim yang terjadi saat ini. Jika tidak berubah dan tidak melakukan mitigasi, banjir akibat cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi.
Menteri KLHK menunjukkan peta perubahan lahan di wilayah hulu Jakarta juga sangat signifikan. Dulu lahan warna hijau tertutup dan berubah dari tahun ke tahun semakin merah.
[irp]