Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Seekor Camar di Bahu Mercusuar

Seekor Camar di Bahu Mercusuar   Seekor camar bertengger di bahu mercusuar Tak ada yang menyangsikan persahabatan mereka Kecuali lampu menara yang kian redup Mercusuar itu telah hidup be...

Oleh Nona Reni 03 Mar 2023 23:53 2 menit baca

Seekor Camar di Bahu Mercusuar

  Seekor camar bertengger di bahu mercusuar Tak ada yang menyangsikan persahabatan mereka Kecuali lampu menara yang kian redup Mercusuar itu telah hidup beratus tahun Menyelamatkan berbagai kapal dan kepala nelayan yang tersesat Tiang penopangnya meringkih rintih Camar tahu betul, usia sahabatnya hampir karam Suatu sore, mereka bercakap Memamitkan beberapa hal yang barangkali tak mampu dicerna otak manusia Laut memandang lepas mereka, seakan menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah Penuh nostalgia dan air mata Burung camar terbang membelah dan belai langit Di tengah badai, ia mendengar mercusuar sahabatnya berderak hebat. "Kau memang telah tua, sahabatku. Sudah waktunya kau beristirahat." Mercusuar itu roboh, tak ada penyesalan baginya Tugasnya telah purna Dan begitulah, ia hidup di ingatan camar Menjadi wangi yang begitu samar 2023 [irp]

Plastik yang Bertandang ke Meja Makan

  Kau mungkin memikirkan sepasang burung dara menelisik bulunya di pagi buta Menggugurkan bulu-bulunya di teras depan rumahmu Kadang kala, kepalanya yang lucu dimiringkannya seolah menengokmu Yang baru saja terbangun dari tidur dengan wajah belepotan iler Di teras depan Adikmu terduduk menghadap ke jembatan Menerka masa depan yang berkejaran dalam hujan Beberapa motor lewat dan berhenti. Mengambil plastik besar dan melemparkannya ke bawah jembatan sana. Lalu isi plastik itu berhamburan, berular menuju laut Tempat ikan-ikan berenang lalu berpindah ke meja makanmu. Sampah. Lagi-lagi sampah. Adikmu menggerutu Gerutu yang barangkali gagal kau pahami Sampah yang senantiasa ia bersihkan berkali-kali Yang semua-semuanya bersumber dari kali 2023 [irp]

Sungai dan Rangkul Ayah

  Sungai mengantarkanmu pada rangkul ayah Juga mainan yang terombang-ambing di tengah arusnya Sebagai anak pengepul barang rongsok Kau mengamini mainan itu dengan senyuman. Tiada peduli asalnya Tak ada yang salah Saat kau berharap Mainan lebih banyak jatuh dan di buang ke sungai Tak ada Jika dahan-dahan mangga Yang ditebas tetanggamu Pun terseret hanyut ke hilir. Tak ada yang salah Bahkan saat kau berdoa hujan mengantar banyak mainan Ke dalam rumahmu Meski mencuri sepasang sepatumu. Yang salah hanyalah hujan Tak kenal waktu dan tempat Menyumbat hilir sungai Memaksa aliran sungai memutar ke hulu Ke rumahmu Rumah yang senantiasa lekat dalam ingatan secangkir kopi susu Yang diseduh barista sebelum tibamu. Kau suka menatapi air sungai yang berubah kopi susu Meminta ayahmu berdiri di pinggir sungai Menggawangi mainan yang di bawa air, oleh banjir Sungai telah membawa mainan ke ruang tamu dan kau merangkul ayah yang memanggul mainan dari sungai keruh itu 2023 [irp]
Topik terkait
#sampah #banjir #sampah plastik #puisi hijau #puisi lingkungan #nelayan #sungai #burung camar