Sajak-sajak Renungan Semesta Yanuar Abdillah Setiadi
(1)
Nilai
Pada apa kau sandarkan sebuah nilai kehidupan
Apakah pada puisi-puisi yang mengasuh jiwa kesepian,
Ataukah pada malam-malam...
Sajak-sajak Renungan Semesta Yanuar Abdillah Setiadi
(1)
Nilai
Pada apa kau sandarkan sebuah nilai kehidupan
Apakah pada puisi-puisi yang mengasuh jiwa kesepian,
Ataukah pada malam-malam yang menyelimuti kedinginan sukma,
atau pada kertas-kertas yang seribu taun hanya menjadi bahan bakar di dalam tungku,
atau pada gelar-gelar yang akan terkubur bersama jasadmu nanti,
atau pada wajahmu yang suatu saat akan mengeriput dikikis waktu,
atau pada tegap dadamu yang suatu saat akan membungkuk dipukul usia,
atau barangkali pada sehelai pakaian yang kau kenakan,
atau pada perhiasan yang berkilauan kesombongan,
atau pada tanah yang menjadi sajadah sujud kerendahhatian,
atau pada air yang membasuh hadas-najis jasadiah dan ruhaniah hatimu.
Aku lihat betapa banyak manusia
diperbudak oleh nilai hidupnya.
Maka celakalah ia yang diperbudak
oleh sesuatu yang fana.
Purbalingga, 2026
(2)
Keserakahan Raja
Dikumpulkannya seribu orang bijak bestari
Memasak hukum di bawah tungku keadilan
Hukum yang mereka masak kian matang
Dihidangkannya hukum itu pada sang raja
Ada seribu hidangan dari seribu racikan bijak bestari
Nyatanya, sang raja hanya memilih dan memilah sebagian saja
Sesuai dengan selera dan kepentingannya
Semua hukum yang sudah dimasak matang oleh bijak besatari
dimasukan ke dalam ranjang sampah
Bijak Bestari pun berkobar-kobar layaknya tungku penggorengan
Mereka pulang dengan kobaran di kepala meraka masing-masing
Meraka tetap ngotot dengan hukum mereka sendiri untuk diterapkan
untuk kaum mereka sendiri.
Kebijaksanaan telah dimasak dan luntur dalam tungku
yang tersisa hanya rasa lapar dan haus Sang Raja pada kekuasaan.
Purbalingga, 2026
(3)
Menuhankan Ego
Perdebatan antara ular dan burung elang berjalan dengan alot.
Semua percakapan ini dimulai dari desis sang ular dan ditimpali oleh suara burung elang
“Aku bisa menyusup ke dalam tanah, menyaksikan intan berlian yang belum pernah dijamah mata telanjang manusia, sedang kau hanya bisa terbang semata”
“Aku bisa melihat dimana batas antara langit dan bumi, tempat dimana peri-peri terbit di ufuk angkasa dan raib ditelan oleh cahaya, sedang kau tak bisa”
“Aku temukan kuil-kuli purbakala, tempat para raksasa membangun peradaban hingga mereka mati satu per satu dan digantikan oleh adam dan hawa, sedang kau hanya bisa terabang”
“Aku bisa menjangkau kaki cakrawala, tempat matahari terbit di semburat timur dan bersemayam di lembayung barat, aku juga bermesraan dengan air hujan langsung dari mata air sumbernya, sedang kau tidak bisa”
“aku bisa melihat artefak-artefak purbakala yang menjadi simbol kehidupan umat manusia, patung-patung prasejarah yang menjadi berhala sebelum cahaya hidayah menerangi kehidupan manusia, sedang kau hanya bisa terbang saja”
“Aku mencecap keindahan pelangi dari ujung utara dan mengulumnya hingga ke ujung selatan, aku berhiaskan bintang-bintang malam, berpakaian selendang rembulan, sedang kau tidak bisa”
Percakapan pun tak pernah usai
Mereka abadi dalam pertentangan
Tidak ada yang menang kecuali ego mereka.
Purbalingga, 2026
(4)
Musibah
Ibu pertiwi memeras tangisnya di ujung hingga awal tahun baru
Anak-anak ibu meraung dalam kenestapaan
Bencana-bencana silih berganti memukul kesombongan,
keangkuhan, kesewenangan, kedurjanaan, kenistaan,
kepicikan, kebengisan, kecerobohan dan kekuasaan.
Tuhan, apakah politik di negeriku sudah begitu dajalnya
atau dajal sudah menyerah juga pada manipulasi politik negeriku.
Aku hanya anak ibu yang lahir dari rahim desa
Kami diasuh dengan kesederhanaan, kesunyian dan kesabaran
Namun sering kali kesabaran kami pun diperas oleh penguasa
serupa mata air ibu hingga yang tersisa hanya kekeringan semata.
Oh, ibu pertiwi
Jika kau tak mau menceritakan luka derita padaku
Sampai kapan kau bisa bertahan dalam kepedihan
melihat anak-anakmu yang berderap pada
rasa tidak tau terima kasih padamu
Jangan kau anggap kami serupa malin kundang semua, ibu.
Purbalingga, 2026
(5)
Sajak untuk Ibuku
(untuk ulangtahun ibu yang ke-54)
Bu, usia memang mengecat rambutmu
Bu, umur juga menanggalkan kalender jatah hidupmu
Bu, udara memang mengelus kulitmu hingga menua keriput
Bu, rasa salah memang memukul punggungku
Bu, masa tuamu selalu menghantuiku setiap malam
Bu, selamat mendekap senja yang ke lima puluh empat
Kuharap masih ada lima puluhan senja lain yang bisa kau rengkuh.
Aamiin.
Purbalingga, 2026
**
Yanuar Abdillah Setiadi, Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi. Wa: 085723806525. BRI 6817-01-025174-53-6 (Atas nama Yanuar Abdillah Setiadi)
[irp]