Sains Lahan Basah dalam Pelukan Kearifan Lokal

Klikhijau.com - Setiap tanggal 2 Februari, diskursus global mengenai keberlanjutan lingkungan mencapai puncaknya melalui peringatan Hari Lahan Basah Sedunia. Momentum ini sebagai pengingat atas dit...

Sains Lahan Basah dalam Pelukan Kearifan Lokal
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Setiap tanggal 2 Februari, diskursus global mengenai keberlanjutan lingkungan mencapai puncaknya melalui peringatan Hari Lahan Basah Sedunia.

Momentum ini sebagai pengingat atas ditandatanganinya Konvensi Ramsar pada tahun 1971 di Iran. Secara saintifik, lahan basah, yang mencakup rawa, gambut, mangrove, hingga estuari, merupakan ekosistem transisi yang unik, berada di ambang batas antara daratan dan perairan.

Dalam literatur ekologi kontemporer, ekosistem ini sering dijuluki sebagai "ginjal planet" (The Kidneys of the Earth) karena kemampuannya yang luar biasa dalam memfiltrasi polutan, memurnikan air, dan mengatur siklus biogeokimia global.

Namun, di balik angka-angka kapasitas sekuestrasi karbon yang sering diagungkan dalam jurnal perubahan iklim, terdapat dimensi sosiokultural yang sangat dalam, kearifan lokal masyarakat adat yang telah menjadi garda terdepan pelestarian ekosistem ini jauh sebelum istilah "pembangunan berkelanjutan" diformulasikan oleh dunia modern.

Urgensi lahan basah dalam mitigasi krisis iklim terletak pada densitas karbonnya yang masif. Lahan gambut, misalnya, meski hanya menempati sekitar 3% dari total luas daratan bumi, mampu menyimpan cadangan karbon dua kali lebih banyak daripada seluruh hutan di dunia jika digabungkan.

Berdasarkan teori Ecohydrology, stabilitas ekosistem ini sangat bergantung pada keseimbangan neraca air. Ketika lahan basah didrainase untuk kepentingan industri atau monokultur, terjadi proses dekomposisi aerobik yang mengubah cadangan karbon menjadi emisi gas rumah kaca secara eksponensial.

Di sinilah sains bertemu dengan batasannya, pemodelan komputer mungkin bisa memprediksi laju kerusakan, namun ia sering kali gagal menangkap nuansa manajemen mikro yang selama ini dipraktikkan oleh masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan air.

Kearifan lokal (Indigenous Knowledge) bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan sebuah bentuk sains partisipatif yang teruji oleh waktu. Di Indonesia, kita mengenal berbagai sistem pengelolaan lahan basah yang sangat adaptif.

Di Kalimantan, masyarakat Dayak memiliki sistem Beje, yaitu kolam ikan tradisional yang dibuat di lahan rawa untuk menjebak ikan saat air surut, yang secara tidak langsung menjaga retensi air tanah. Sementara di Sumatera Selatan, sistem Lebak Lebung mengatur distribusi hak tangkap ikan secara komunal dengan mempertimbangkan siklus regenerasi spesies.

Praktik-praktik ini selaras dengan konsep Social-Ecological Systems (SES) yang dikembangkan oleh Elinor Ostrom, yang menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya bersama bergantung pada keterlibatan komunitas lokal dan aturan main yang berakar pada budaya setempat.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow