Petani Milenial Kindang, Jawab Tantangan Musim Paceklik dengan Tomat

Klikhijau.com - Musim paceklik, jadi musim paling meresahkan bagi masyarakat Desa Kindang. Musim ini berlangsung kurang lebih lima bulan. Dimulai Desember hingga April. Terkadang menyeberang ke Mei....

Petani Milenial Kindang, Jawab Tantangan Musim Paceklik dengan Tomat
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Hanya saja, tambalan itu tidak cukup, sebab antara bulan Desember hingga April atau kadang ke Mei, porang belum panen, daun cengkeh berhenti berguguran karena memasuki masa berbuah. Pada bulan-bulan tersebut, mata pencaharian di dunia pertanian di Desa Kindang—nyaris kosong.

Solusi pada tanaman jangka pendek

Desa Kindang adalah desa dengan tingkat kesuburan tanah yang memukau dan memikat. Jenis tanaman apa pun ditanam, peluang tumbuhnya sangat besar.

Satu di antara tanaman yang paling mungkin jadi solusi mengatasi bulan cipi' adalah tanaman pangan dengan masa panen yang cepat atau jangka pendek, semisal tomat, cabai, buncis, labu hingga jagung manis.

Selama ini masyarakat memang menanam tanaman jangka pendek, khususnya sayuran. Namun skalanya terbatas, sekadar untuk dikonsumsi saja dan mencari amal "berbagi ke tetangga dan keluarga". Belum masuk ke ranah bisnis,  yakni untuk dijual. Karena yang ditanam pun jumlah sedikit.

Karena yang ditanam sedikit saja, terkadang tidak mencukupi. Karenanya, jangan heran jika mendapati kaum ibu rela duduk di pinggir jalan menunggu penjual sayur lewat. Mereka tidak untuk menjual sayur, tapi untuk membeli.

Menjawab tantangan dengan tomat

[caption id="attachment_30186" align="aligncenter" width="650"] Syahri saat menanam tomat di lahannya-foto/Ist[/caption]

Musim paceklik memang harus dilawan. Kedatangannya adalah tantangan (challenge) yang harus ditaklukkan. Sebagai daerah bertanah subur. Challenge itu sangat mungkin ditaklukkan.

Tanaman penakluk itu bisa datang dari tomat (Solanum lycopersicum). Tumbuhan asli Amerika Tengan dan Selatan ini, potensinya sangat menjanjikan di Desa Kindang.

Potensi itu telah dibuktikan oleh Syahrir dan Fikar. Keduanya adalah petani milenial yang tergabung dalam kelompok perkebunan yang bernama Tassika.

Syahrir dan Fikar memilih jalan yang tidak biasa, penuh tantangan dan perjudian. Mereka berfokus pada tanaman jangka pendek jenis sayur. Tomat salah satunya. Tanaman dari keluarga Solanaceae ini termasuk unik. Karena secara botani, tomat adalah tanaman buah. Namun, dalam dunia kuliner, tomat adalah sayuran.

Keduanya tidak mengikuti para leluhur, yang hanya menanam seadanya saja, tapi keduanya menanam dalam jumlah ribuan. Sesuatu yang belum pernah ditempuh oleh masyarakat, apalagi digarap dengan sistem yang cukup modern. Mulai dari persiapan lahan, penyemaian bibit, pemupukan hingga pemangkasan (pruning).

Mereka berdua tekun mengikuti petunjuk yang didapatkan dari proses pelatihan dari ahlinya. Dan rela memeras keringat lebih banyak.

"Ini untuk menjawab tantangan di bulan cipi'" jelas Syahrir, ketua kelompok pertanian Tassika beberapa waktu lalu.

Ia dan Fikar memilih tomat bukan tanpa alasan. Setelah melakukan survei selama dua tahun. Potensi tomat di bulan cipi’ (Desember-April) sangat besar, baik dari segi harga maupun buah.

Di bulan cipi’ itu Ketersediaan tomat di pasaran agak langka. Karenanya, harganya akan melonjak.

"Daerah penghasil tomat pada bulan cipi’ belum panen," katanya lagi.

Ia berharap, saat masyarakat melihat potensi tomat, seperti yang ia tanam. Masyarakat akan bergegas untuk menanamnya pula atau minimal, mengubah cara bertaninya—mulai memikirkan menanam tanaman jangka pendek.

Cara ini, katanya dapat jadi solusi mengatasi bulan cipi’ yang telah mencekik selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Karena, sambil menunggu hasil komoditi jangka panjang, ada komoditi jangka pendek yang bisa diandalkan untuk mengepulkan asap dapur dan memenuhi kebutuhan lainnya.

“Dengan tomat atau tanaman jangka pendek, maka jalur merantau bisa tertutup,” tegasnya.

Mulai panen

[caption id="attachment_30187" align="aligncenter" width="650"] Fikar bersama tomat yang dipanennya, 6 januari 2023-foto/Ist[/caption]

Ketika memulai menanam tomat, apalagi ditanam saat kemarau sedang ganas-ganasnya. Banyak masyarakat yang mencibir—menanamkan rasa pesimis jika tomat yang ditanam itu akan berhasil.

Tapi, dengan ketekunan dan menerapkan ilmu yang didapatkan. Tomat yang ditanam Syahrir dan Fikar pun berhasil.

Saat ini, tomat yang mereka telah memasuki masa panen. Bahkan Syahrir menargetkan dapat meraup hasil hingga 90 juta dari 3.000-an tomat yang ditanamnya. Fikar pun demikian, ia juga menanam 3.000-an tomat.

Harga tomat memang sedang menggila, pada saat jelang tahun baru, harganya menyentuh angka Rp 500.000/kantong. Saat ini, harga tomat di kisaran harga Rp300.000/kantong.  Satu kantong berisi 20 kg.

"Masyarakat harus melihat bukti terlebih dahulu baru mau bertindak," tutupnya.

Semoga dengan tomat atau tanaman jangka pendek lainnya, musim paceklik atau bulan cipi’ tidak lagi mencekik. Bisa berlalu dengan santai, dengan isi kantong yang menebal berisi cuan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2