Penangkap Kupu-kupu

Asap   Aku baru saja menyeduh kopi. Tak kuberi gula. Kubiarkan saja pahitnya mengental di tenggorokan saat menyeruputnya nanti. Kubiarkan kopi itu mendinginkan dirinya sendiri. Jadi, aku t...

Penangkap Kupu-kupu
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Asap


 

Aku baru saja menyeduh kopi. Tak kuberi gula. Kubiarkan saja pahitnya mengental di tenggorokan saat menyeruputnya nanti.

Kubiarkan kopi itu mendinginkan dirinya sendiri. Jadi, aku tak perlu meniupnya saat hendak menyeruputnya.

Kusaksikan dengan penuh perhatian asapnya. Asapnya lesap bersama asap pekat dari arah penyulingan daun cengkeh. Itu membuatku batu-batuk dan memerihkan mataku.

Seketika saja. Mataku meneteskan gerimis. Aku tak sedih. Mataku hanya perih saja. Sejak penyulingan daun cengkeh itu berdiri. Mata warga telah ditumbuhi gerimis. Pandangan memburam.

Banyak warga kini terancam buta. Banyak dari mereka tak lagi saling mengenal wajah. Satu sama lain hanya dikenal dengan suaranya.

Jadi, omong kosong jika ada yang mengatakan, bahwa wajah adalah identitas pertama seseorang. Di kampungku itu tak berlaku. Identitas pertama adalah suara. Tepat ketika penyulingan daun cengkeh di tengah pemukiman itu mengeluarkan asap.

***

Seminggu lalu. Panrasu, baru pulang dari tanah suci, Mekah. Ia menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Datuna. Kini keduanya bergelar haji.

Keduanya naik haji saat musim peceklik. Saat cengkeh tiada berbuah. Makanya, hajinya terlalu istimewa. Saat cengkeh tak berbuah selama tiga tahun beruntun. Pasangan suami istri itu mendirikan penyulingan daun cengkeh.

Hanya dalam waktu tiga tahun saja. Keduanya mampu naik haji. Kata orang, keduanya menggunakan jalur lain, tak ikut jalur pemerintah yang mengharuskan antri.

***

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2