Mikroplastik Mengintai Udara dan Tanah, Apa Dampaknya bagi Kita?

Klikhijau.com - Kita hidup di zaman plastik bukan hanya di sekitar kita, tapi juga di dalam diri kita. Selama ini, kita mungkin mengira mikroplastik hanya jadi masalah di laut. Kita sudah sering mende...

Mikroplastik Mengintai Udara dan Tanah, Apa Dampaknya bagi Kita?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kita hidup di zaman plastik bukan hanya di sekitar kita, tapi juga di dalam diri kita. Selama ini, kita mungkin mengira mikroplastik hanya jadi masalah di laut. Kita sudah sering mendengar soal paus yang mati karena perutnya penuh sampah plastik, atau terumbu karang yang tercemar serpihan-serpihan kecil tak kasat mata. plastik di laut menjadi ikon paling dikenal dari krisis lingkungan kita hari ini.

Tapi sesungguhnya, ancaman plastik tak hanya menghantui samudera. Ia jauh lebih dekat, lebih senyap, dan lebih mengejutkan. Seberapa banyak kita benar-benar tahu soal ancaman tak kasat mata ini?

Tanpa disadari, partikel-partikel plastik kecil yang disebut mikroplastik telah menyusup ke dalam tanah dan beterbangan di udara yang kita hirup. Kita tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang, tapi kehadirannya nyata, merayap pelan masuk ke dalam tubuh dan kehidupan kita. Plastik-plastik ini tidak hilang, melainkan pecah menjadi lebih kecil, lebih halus, dan lebih sulit dikendalikan.

Mikroplastik adalah potongan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Ia bisa berasal dari dua sumber utama yaitu Primary microplastics, seperti Microbeads dalam produk kecantikan dan serat sintetis dari pakaian dan Secondary microplastics, dari kemasan makanan, kantong belanja, botol minuman dan ban kendaraan.

Adapun Menurut sebuah laporan dari United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 51 triliun partikel mikroplastik sudah mencemari lingkungan global. jumlah yang jauh lebih besar dari bintang di galaksi Bima Sakti.

Kebanyakan dari kita menganggap bahwa mikroplastik adalah isu kelautan. Tapi justru, konsentrasi mikroplastik di daratan lebih tinggi dibandingkan di laut. Penelitian dari Norwegian Institute for Water Research (NIVA) menemukan bahwa kandungan mikroplastik di tanah bisa 4 hingga 23 kali lebih banyak. Sumbernya? Limbah domestik, air limbah yang tidak terolah, kompos dari lumpur limbah, dan bahkan plastik pertanian seperti mulsa yang digunakan untuk menutup tanah.

Mikroplastik dalam tanah perlahan mengacaukan ekosistem mikro di dalamnya. Struktur tanah terganggu, pori-pori menjadi tidak stabil, air tidak lagi mudah meresap, dan aktivitas mikroba yang selama ini menjadi penopang kesuburan menjadi terhambat.

Seorang peneliti dari Universitas Wageningen, Dr. Matthias Rillig, bahkan menyebut mikroplastik sebagai faktor yang dapat mengubah cara kerja ekosistem tanah secara keseluruhan. Sebuah studi dari University of Auckland pada tahun 2022 menemukan keberadaan mikroplastik dalam jaringan paru-paru manusia hidup.

Mereka menemukan bukti bahwa plastik tak hanya ada di sekitar kita, tapi juga telah masuk ke dalam diri kita. Kita mungkin sedang menghirup mikroplastik saat berada di kantor, di rumah, bahkan di kamar tidur.

Studi lain yang diterbitkan di jurnal Environmental Pollution memperkirakan bahwa manusia dapat menghirup sekitar 11 partikel mikroplastik per jam dalam ruang tertutup. Ini bukan sekadar partikel polos, plastik bisa menjadi “kendaraan” bagi zat kimia berbahaya seperti BPA dan ftalat yang dikenal sebagai pengganggu hormon.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2