Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Tips Hijau dan Gaya Hidup

Menstruasi Hijau, Begini Cara Mengelola Limbah Pembalut agar Tak Mencemari Lingkungan

Oleh St. Nashwa Wahdania Azis 21 Oct 2026 20:07 4 menit baca

Klikhijau.com – Pembalut, salah satu hal yang penting bagi perempuan saat menstruasi. Ada dua jenis pembalut, yang bisa dipakai berkali-kali dan yang hanya sekali pakai saja.

Anehya, banyak perempuan yang memilih jenis kedua. Alasannya, karena penggunannya yang praktis untuk menjaga kebersihan.

Karena hanya sekali pakai atau digunakan akan menjadi sampah, dan jika dibuang sembarangan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan menganggu kebersihan, juga kesehatan.

Persoalan ini sering kali luput dari perhatian. Padahal pembalut merupakan salah sampah rumah tangga yang paling banyak dihasilkan setiap bulannya.  

Sahabat hijau perlu tahu, pembalut sekali pakai itu teridiri atas beberapa lapisan bahan, termasuk material penyerap dan plastik pada sejumlah produk. Dari bahan-bahan inilah yang membuat pembalut semakin tidak mudah terurai.

Pada rtikel IDN Times yang berjudul Mengatasi Sampah Pembalut Sekali Pakai saat Menstruasi, kita akan tersadarkan betapa pentingnya penanganan pembalut sekali pakai dengan  tepat.

Limbah pembalut yang dibuang ke sungai atau saluran air akan menjadi sampah yang mencemari lingkungan. Jika menumpuk, sampah tersebut berpotensi menghambat aliran air.  

Sementara pembalut yang dibuang dalam keadaan terbuka dapat menganggu kebersihan dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Sebuah artikel yang  diterbitkan Surabaya Pagi berjudul Dari Rumah ke Sungai, Rantai Pencemaran Sampah Popok dan Pembalut yang Terabaikan turut menyoroti bagaimana sampah popok dan pembalut yang tidak dikelola dengan baik dapat berpindah dari lingkungan rumah tangga ke saluran drainase hingga sungai.

Tips mengelola limbah pembalut dengan benar

Lalu bagaimana cara mengelolahnya dengan tepat, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

  •    Gulung dan bungkus pembalut bekas

Setelah digunakan, gulung atau lipat pembalut tersebut. Kemudian bungkus menggunakan kemasan bekasnya atau kertas yang sesuai. Cara ini dapat membantu menjaga kebersihan dan mencegah bagian yang telah digunakan terbuka kembali.

  •  

    Jangan membuang pembalut ke toilet

Pembalut tidak dirancang untuk dibuanh melalui toilet. Material penyerapannya dapat menganggu aliran air dan menyebabkan penyumbatan pada saluran. Maka dari itu, pembalut yang sudah dipakai sebaiknya dibuang ke tempat sampah yang sesuai.

  •  

    Gunakan tempat sampah yang memadai

Tempay sampah yang tertutup dapat membantu menjaga kebersihan dan mengurangi bau yang tidak sedap. Di rumah atau fasilitas umum,  tempat sampah yang memadai juga dapat memudahkan pengguna membuang pembalutnya bekasanya dengan baik.

  •  

    Jangan membuang pembalut sembarangan

Hindari membuang pembalut ke sungai, selokan, Pantai, atau lahan terbuka lainnya. Pembalut yang sudah dibungkus tetap perlu dibuang di tempat sampah yang benar karena pembungkus hanya membantu menjaga kebersihan bukan membuat pembalut menjadi mudah terurai.

  •  

    Cuci tangan setelah membuang pembalut

Setelah menangani pembalut bekas tersebut, jangan lupa untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir. Hal ini merupakan langkah yang sederhana tetapi penting untuk menjaga kebersihan diri selama menstruasi.

 

Pentingnya inovasi

Panduan pembuangan pembalut juga bisa dibahas dalam artikel OWDITE berjudul Ternyata Begini Cara Buang Pembalut Bekas yang Benar, Jangan Langsung Masuk Tempat Sampah! Artikel ini menekankan pentingnya mempersiapkan pembalut sebelum dibuang sebagai sampah residu.

Selain memperbaiki cara membuang pembalut, upaya mengurangi dampak lingkungan juga dapat dilakukan melalui inovasi produk. Salah satu contohnya seperti yang dikembangkan oleh The Bananabees, tim mahasiswa institut Teknologi Bandung (ITB) melalui konsep Mennapads.

Diberikan dalam situs resmi ITB pada Maret 2025, Mennapads merupakan inovasi pembalut biodegradbale yang memanfaatkan limbah pelepah pisang sebagai bahan penyerap. Inovasi ini dirancang untuk membantu mengurangi penggunaan plastik pada pembalut konvensional sekaligus memanfaatkan limbah pertanian.

 

Meski demikian, pengembangan produk alternatifnya juga harus tetap perlu diperhatikan mulai dari keamanan, kenyamanan, dan pengujian produk sebelum digunakan secara luas.

Dengan kebiasaan kecil ini akan berdampak berarti dalam mengelola limbah pembalut bukan hanya dilihat dari persoalan kebersihan pribadi, tetapi dilihat dari bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan. Membungkus pembalut bekas, tidak membuang ke toilet, dan menggunakan tempat sampah yang sesuai merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap kali menstruasi.

Namun, upayakan ini harus perlu didukung oleh fasilitas sanitasi dan sistem pengangkutan sampah yang memadai. Dengan membangun kebiasaan ini dengan benar serta dapat mendorong inovasi yang lebih ramah lingkungan, dampak sampah pembalut dapat dikurangi secara bertahap.

 

Topik terkait
menstruasi kesehatan pencemaran lingkungan pembalut tips mengelola pembalu