Mengintip Penerapan Jalur Hijau Sepeda di Makassar

Klikhijau.com - Selama beberapa waktu terakhir, aktivitas bersepeda kian menjamur di kota-kota besar. Tak terkecuali di Kota Makassar sendiri, begitu mudah ditemui pesepeda di tepian jalan. Apalagi di...

Mengintip Penerapan Jalur Hijau Sepeda di Makassar
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Selama beberapa waktu terakhir, aktivitas bersepeda kian menjamur di kota-kota besar. Tak terkecuali di Kota Makassar sendiri, begitu mudah ditemui pesepeda di tepian jalan. Apalagi di waktu-waktu libur kerja. Kala sebagian masyarakat memanfaatkan sepeda untuk berolahraga.

Banyaknya jumlah pesepeda menarik perhatian pemerintah daerah untuk membuat jalur khusus pesepeda. Ini juga sebagai syarat untuk mewujudkan kota ramah bagi semua kalangan.

Di Kota Makassar sendiri, ada beberapa jalur pesepeda yang telah dibuat Pemkot Makassar, salah satunya di Jalan Andi Pangeran Pettarani yang baru dibangun sejak pengerjaan tol layang Pettarani. Jalur hijau sepeda dibangun sepanjang Jalan Pettarani, dimulai dari pembelokan Jalan Alauddin menuju Flyover.

Pengerjaan rute jalur pesepeda dibangun seiring meningkatnya penggunaan sepeda berbagai kalangan masyarakat Makassar. Terlebih lagi ketika pandemi covid melanda dunia di awal 2020 lalu. Berkurangnya aktivitas masyarakat di ruang publik menjadikan sepeda sebagai alternatif transportasi berkendara.

Selain itu, bersepeda juga menjadi olahraga kelompok pekerja di waktu senggang. Akibatnya, aktivitas bersepeda menjadi sebuah tren tersendiri bagi masyarakat Makassar. Gelombang pembelian sepeda kian meningkat, menciptakan varian-varian sepeda dengan harga yang melangit.

Jalurnya belum efektif

Beberapa pegiat sepeda secara kritis melihat pembangunan jalur sepeda dibuat tidak disertai kesadaran pemerintah yang menganggap pentingnya kehadiran sepeda sebagai transportasi alternatif ramah lingkungan.

Hal ini diutarakan Anwar Kartodiningrat, pesepeda yang telah menekuni dunia persepedaan sejak duduk di bangku sekolah. Anwar yang juga merupakan pengajar Antropologi di Universitas Hasanuddin melihat pembangunan jalur pesepeda bukan karena pemerintah melihat sepeda sebagai alternatif transportasi ramah lingkungan. Tetapi karena kepentingan mereka yang sedang tertarik bersepeda.

Anwar menjelaskan, “Sebenarnya, saya justru melihat kesadaran pemerintah dalam membangun sarana prasarana pesepeda itu baru muncul 2 tahun terakhir hanya karena mereka mulai tertarik pada sepeda. Saya justru tidak melihat itu sebagai kesadaran bahwa sepeda adalah alat transportasi alternatif yang ramah lingkungan dan harus dipertahankan,” jelasnya.

Meski begitu Anwar tetap mengapresiasi upaya pemerintah kota Makassar dalam membangun fasilitas penunjang kebutuhan pesepeda. Tetapi, pembangunan fasilitas akan terasa tak optimal jika tanpa dibarengi dengan sosialisasi kepada masyarakat luas terkait hak pesepeda atas kota.

Hal ini dapat terlihat dari banyaknya kendaraan non-sepeda yang terparkir di jalur sepeda. Sehingga menyulitkan pesepeda untuk melintas di jalan-jalan ini. Menurutnya, hal ini dikarenakan kurangnya kampanye pemerintah kota kepada publik Makassar.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2