Klikhijau.com – Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 menjadi momentum penguatan kolaborasi nasional dalam menjaga ekosistem pesisir. Mengusung tema “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Menda...
Klikhijau.com – Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 menjadi momentum penguatan kolaborasi nasional dalam menjaga ekosistem pesisir. Mengusung tema
“Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang.”
Ada tiga kementerian terkait yang berkolaborasi pada peringata hari mangrove tahun ini, yakni Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kolaborasi strategis antara tiga kementerian itu ditandai dengan dua aksi utama, yakni penanaman massal secara serentak di seluruh kawasan mangrove Indonesia dan pelibatan peserta dari kalangan pelajar, komunitas, serikat pekerja, masyarakat umum serta seratus generasi muda sebagai garda terdepan pelestari
ekosistem pesisir.
[irp]
Dalam rangkaian peringatan tahun ini, KLH/BPLH memimpin aksi penanaman serentak lebih dari satu juta
bibit mangrove yang tersebar di 162 titik di 37 provinsi. Mencakup area seluas 364,11 hektare, gerakan ini menggerakkan lebih dari 25.000 peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, komunitas lokal, serikat pekerja, hingga instansi pemerintah.
Sementara itu, di Kawasan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang dan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Denpasar, Bali, sebanyak 100 generasi muda binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali yang terdiri dari Saka Wanabakti dan komunitas lingkungan turut ambil bagian secara langsung.
Penyerahan bibit mangrove secara simbolis kepada perwakilan generasi muda di Bali menjadi pertanda diserahkannya estafet tanggung jawab menjaga benteng pesisir nusantara. Bagi para pemuda ini, menanam mangrove adalah bukti kesiapan mereka untuk mewariskan lingkungan yang sehat bagi masa depan, bukan sekadar menikmatinya saat ini.
[irp]
Peran penting Indonesia
Indonesia memegang peranan krusial dalam ekosistem global. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional, Indonesia memiliki kawasan mangrove seluas 3,45 juta hektare, yang menyumbang sekitar 20 hingga 23 persen dari total luas mangrove di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,73 juta hektare berada di dalam kawasan hutan yang menjadi kewenangan Kementerian Kehutanan.
Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut), Rohmat Marzuki, menegaskan bahwa potensi raksasa ini adalah amanah besar. Mangrove bukan hanya sekadar kumpulan pohon tepi pantai, melainkan pelindung dari ancaman abrasi, penyimpan karbon biru (blue carbon) yang sangat efektif, serta sumber penghidupan ekonomi
masyarakat pesisir.
"Menjaga mangrove bukan hanya tentang melindungi pohon di kawasan pesisir. Kita sedang menjaga kehidupan, memperkuat ketahanan iklim, dan mengamankan masa depan generasi mendatang. Generasi muda hari ini adalah penjaga keberlanjutan mangrove Indonesia di masa depan," tegas Wamenhut Rohmat Marzuki.
Di tengah besarnya potensi tersebut, ancaman alih fungsi lahan dan pemanfaatan yang tidak terkendali tetap menjadi tantangan nyata. Merespons hal ini, pemerintah telah memperkuat fondasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Sebagai panduan operasional jangka panjang, KLH/BPLH meluncurkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional 2026–2055. Pendekatan ini menyelaraskan aspek perlindungan dan pemanfaatan berkelanjutan, salah satunya melalui program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) yang mendorong penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs) berbasis ekowisata.
[irp]
Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, dan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan bahwa kunci keberhasilan pemulihan pesisir terletak pada sinergi antar-lembaga. Kolaborasi ini mencakup berbagai program strategis, termasuk rencana restorasi ekosistem mangrove dalam proyek revitalisasi kawasan Pantura Jawa.
“Mangrove bukan hanya sekumpulan pohon di kawasan pesisir. Mangrove adalah benteng kehidupan yang melindungi daratan, menjaga sumber kehidupan masyarakat pesisir, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan dan mengamankan masa depan generasi Indonesia,” tutur Menteri Jumhur.
Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 menjadi bukti, perlindungan lingkungan di Indonesia telah bergerak ke arah yang terpadu dengan memadukan kebijakan berbasis data, komitmen antar-kementerian, serta keberanian aksi nyata dari masyarakat dan generasi muda sebagai pemilik masa depan.
Harus diakui dan disadari, mangrove adalah benteng ekologi penahan abrasi, penyimpan karbon biru, dan sumber penghidupan. Perlindungan dan pemulihan mangrove hari ini merupakan investasi langsung untuk mengamankan masa depan
generasi mendatang.
[irp]