Memanen Pesona Matahari Pagi di Atas Gunung Pattaneteang

Klikhijau.com - Pergantian waktu di sore hari memang selalu memberi ingatan prestisius. Dengan predikat itu nilai matahari yang tenggelam di batas senja bisa mendera indera. Tapi 'kebijakan matahar...

Memanen Pesona Matahari Pagi di Atas Gunung Pattaneteang
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Klikhijau.com - Pergantian waktu di sore hari memang selalu memberi ingatan prestisius. Dengan predikat itu nilai matahari yang tenggelam di batas senja bisa mendera indera.

Tapi 'kebijakan matahari' bukan hanya milik sore hari. Itulah alasan mengapa matahari pagi perlu disambut di Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Bantaeng.

Bahkan kami mendahului kehadirannya di atas ketinggian 750 meter di dusun Batu Massong.

Ini semacam perlawanan terhadap klaim otoritas matahari berlabel sunset.

Bagaimana tidak, alam Desa Pattaneteang yang dingin berada dalam ketinggian 700 - 800 meter, butuh pekikan peperangan untuk menyambut pagi dengan dini.

Jika harus membuat penggalang kata sebagai "desa wisata" karena keberadaan sejumlah mata air dengan mudah dapat dijumpai di sini. Desa Pattaneteang sebagai tujuan wisata terus berbenah.

Dengan luasan 19.09 km2, desa Pattaneteang dikenal juga sebagai penghasil kopi. Salah satunya adalah kopi Daulu. Di Daulu jenis kopi Arabika tumbuh dengan baik di ketinggian 823 mdpl.

Kondisi cuaca berkisar 17 - 25 derajat dan iklim kering dengan hanya berkisar 3 bulan/tahun. Bagi tanggapan satu hal dimiliki desa Pattaneteang menurut warganya, hujannya awet bisa membawa rindu.

Hanya berjarak kurang dari 100 m dari kediaman kepala Desa Pattaneteang, tampak sungai Bialo yang membatasi antara Bantaeng-Bulukumba.

Di atas sungai ini tersaji jembatan yang dipenuhi beragam warna-warni. Oleh pemerintah Desa, jembatan ini diberi nama “The Rainbow Bridge of Bialo".

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2