Melihat Rombongan Sampah Melintasi Kanal Kota Makassar di Musim Hujan

Klikhijau.com – Hujan di awal November akhirnya datang juga. Dimulai dari rerintih yang tipis, malu-malu. Bagi warga Kota Makassar, hujan kali ini ibarat tamu yang datang terlambat. Berbulan-bulan,...

Melihat Rombongan Sampah Melintasi Kanal Kota Makassar di Musim Hujan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Hujan di awal November akhirnya datang juga. Dimulai dari rerintih yang tipis, malu-malu. Bagi warga Kota Makassar, hujan kali ini ibarat tamu yang datang terlambat.

Berbulan-bulan, panas memanggang kota dengan terik menukik tiada terkira. Kerinduan akan hujan, membuat Halimah (45), seorang ibu rumah tangga tampak kegirangan. Lewat story Whatsapp miliknya ia menulis: “Alhamdulillah akhirnya hujanmi!”

Kegembiraan Halimah seolah mewakili perasaan jutaan warga Makassar yang telah lama berharap hujan. Kota memang sudah terlampau lama gerah. Tanaman hias mati berjamaah. Kipas angin banyak yang rusak di rumah-rumah warga karena harus kerja keras berputar nyaris dua puluh empat jam setiap harinya. Tagihan listrik naik. Dan kabar paling menghentak tentu saja karena kriminalitas meningkat—itu terlihat dari berita-berita viral yang tayang melalui sosial media dan media mainstream. Dari kasus pembunuhan, bunuh diri, tabrak lari hingga perkelahian di jalan raya.

“Semakin banyak kriminalitas aneh-aneh di makassar kak. Banyak tindak kekerasan di luar nalar. Mungkin karena panas kota ini!” cerita Isal (Nama samaran), seorang wartawan isu kriminal satu portal ternama di Makassar.

Dalam Bahasa Makassar, panas dinamai bambang. Kondisi panas membuat emosi gampang meledak-ledak. Orang Makassar menyebutnya “pabbambangan na tolo”: emosional dan bodoh. Frase ini juga diambil dari kata “panas” atau “bambang”. Sebuah idiom yang menggambarkan sikap seseorang yang temperamental. Gampang terhasut dan tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan dari tindakannya. Idiom ini sering diidentikkan dengan oknum orang Makassar yang bertingkah terlampau emosional dan barbar.

“Bambangna alloa de’ehh….tena kucoco’” begitu ujaran seorang lelaki kemayu yang marah mengutuk cuaca panas yang kemudian ditirukan banyak orang di sosial media. Musim panas yang terlalu lama membuat banyak orang kehilangan akal sehat. Maka hujan yang mengguyur di awal November ibarat lembaran baru bagi warga Makassar. Air yang mengalir dari langit tidak saja membasahi ibu pertiwi, tetapi juga mendinginkan otak yang bambang.

Hujan simalakama

Wajarlah bila hujan membuat banyak warga kegirangan. Tidak terkecuali anak-anak.

Pemandangan itu terlihat di area kanal PDAM Makassar yang membelah jalan Abdullah Daeng Sirua. Pada air di kanal yang berkelimpahan kecoklatan, anak-anak berenang-renang seperti ikan raksasa. Semua merayakan sensasi hujan.

Seperti lagu “November rain” yang dipopulerkan “guns and roses”, orang-orang Makassar meyakini bahwa hujan sudah pasti akan turun di November. Mengapa? Sebab inilah bulan yang berakhiran ere (air dalam Bahasa Makassar). Nenek moyang di Makassar menyebutnya Novembere. Meski sejatinya, orang-orang Bugis-Makassar sejak dahulu menyakini bahwa hujan akan dimulai pada Oktobere—keyakinan ini sekaligus dijadikan petunjuk bagi para petani dalam kalender musim tanam.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2