Makna Simbolik Pawai Obor dan Jalan Kaki Pemkot Makassar di Malam Lebaran?

Klikhijau.com - Pemerintah Kota Makassar bersama seluruh camat, lurah, Satpol PP BKO, LPM, Tripika Kecamatan, dan warga antusias menyambut hari kemenangan dengan menggelar kegiatan tahunan malam tak...

Makna Simbolik Pawai Obor dan Jalan Kaki Pemkot Makassar di Malam Lebaran?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Klikhijau.com - Pemerintah Kota Makassar bersama seluruh camat, lurah, Satpol PP BKO, LPM, Tripika Kecamatan, dan warga antusias menyambut hari kemenangan dengan menggelar kegiatan tahunan malam takbiran yakni pawai obor menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 H/2019 M.

Acara yang dihelat di Jalan Jend. Ahmad Yani depan Lapangan Karebosi Makassar, Rabu, 5 Mei 2019 itu turut dihadiri oleh Pj. Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb.

Pawai takbir menggunakan obor dan berjalan kaki ini bagian dari kampanye Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengusung tema “Go Green”, di mana masyarakat Kota Makassar sangat peduli dengan polusi udara. Sementara tema dunia United Nation Environment yaitu Beat Air Pollution (Kendalikan Polusi Udara).

Mengutip isi sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bahwa peringatan HLH tahun ini ditandai dengan peringatan Word Health Organization (WHO) tentang salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan manusia yaitu polusi udara. WHO menyatakan setiap tahunnya 7 juta orang meninggal karena polusi udara.

Dalam sambutannya tersebut, Siti menyebut bahwa WHO menyatakan setiap tahun, 7 juta orang meninggal karena polusi udara, di seluruh dunia tercatat bahwa 9 dari 10 orang terpapar pencemaran udara yang berasal dari kendaraan bermotor, industri, pertanian, dan pembakaran sampah.

“Secara nasional kita menggunakan tema dalam relevansi tersebut, yaitu Biru Langitku, Hijau Bumiku. Mengapa kita menggunakan tema tersebut? karena ternyata tema biru langitku yang menggambarkan upaya kita untuk mengendalikan polusi udara sangat berkaitan dengan upaya untuk menata bumi kita menjadi lebih hijau.

“Untuk mengurangi polusi udara dari kendaraan bermotor, maka upaya-upaya untuk membuat kota menjadi lebih hijau dengan memperbanyak taman kota, membangun trotoar untuk pejalan kaki, membangun jalur bersepeda seperti Kota Surabaya, Bandung, dan kota-kota lainnya maka upaya-upaya itu mampu mengurangi polusi dari kendaraan bermotor,” tulis Siti.

Lebih lanjuut, ia mengatakan, mengurangi polusi udara juga mendorong dibangunnya ruang-ruang publik yang baru dengan konsep pembangunan taman, tempat pejalan kaki yang teduh dan nyaman, fasilitas stasiun yang bersih dan pada akhirnya mendorong proses perubahan perilaku untuk tidak membuang sampah secara sembarangan.

“Upaya pengendalian polusi udara perlu diimbangi dengan gerakan menanam pohon untuk menambah kapasitas reduksi polusi udara. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menargetkan penanaman pohon seluas 207.000 hektar pada tahun 2019 ini dan terfokus pada 15 DAS prioritas, 15 danau prioritas, 65 dam/bendungan, dan daerah-daerah rawan bencana,” ujarnya.

Siti berharap gerakan ini akan memberikan dampak yang lebih besar jika seluruh pihak berpartisipasi dengan target menanam dan memelihara 25 pohon seumur hidup. Target 25 pohon itu dapat dilakukan dengan menanam dan memelihara 5 pohon saat jenjang Sekolah Dasar, 5 pohon Sekolah Menengah Pertama, 5 pohon Sekolah Menengah Umum, 5 pohon Perguruan Tinggi, dan 5 pohon saat menikah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow