Lelaki Penunggu Ikan

Di atas karang nan cadas ada sebuah sapu tangan. Ketika pagi yang gigil, Runduma duduk di dekat karang itu, membisu. Air laut pasang surut, namun penampakan samudera membiru di kejauhan tiada pernah l...

Lelaki Penunggu Ikan
Bacakan Artikel

Di atas karang nan cadas ada sebuah sapu tangan. Ketika pagi yang gigil, Runduma duduk di dekat karang itu, membisu. Air laut pasang surut, namun penampakan samudera membiru di kejauhan tiada pernah lepas dari pandangannya. Pada samudera yang seperti tak bertepi itulah, Runduma seringkali melihat ikan-ikan besar beterbangan ke langit-langit lalu tiada kembali. Ada yang baris berbaris lalu serentak melesat, entah ke antabaranta. Sebelum senja tenggelam, Runduma melihat ikan-ikan itu saling memakan. Ikan besar yang telah menyantap ikan-ikan yang lebih kecil, lalu disambar ikan raksasa. Lalu, ikan-ikan raksasa semirip kapal penumpang saling sambar satu sama lain. Entah apa kejadian setelahnya, apakah pertarungan antar ikan-ikan berlangsung hingga pertang?

Runduma berjalan gontai meninggalkan pantai yang lengang saat petang datang. Maimunah, telah menyiapkan sebuah makan malam. Nasi putih dan lauk apa adanya. Secangkir kopi hitam tidak ketinggalan. Runduma menyantap makan malam bersama isterinya. Seperti biasa, tak ada obrolan sepatah kata pun. Setelah merapikan piring-piring berserakan, terdengarlah suara Maimunah sedang mengaji. Sementara Runduma menenteng secangkir kopi ke teras. Merenung di sana, suara ombak riuh memberi irama kicauan burung-burung yang beterbangan di pohon-pohon kelapa.

Cerita tentang ikan-ikan yang gemar berenang-renang di tepian saat pasang, kini terbayang di kepala Runduma. Matanya mulai terbenam dan seperti malam-malam sebelumnya, ia terjebak dalam kenangan. Ikan-ikan menghampirinya. Anak-anak bermain rumahrumahan dari pasir putih yang memburai. Membuat lubang-lubang seperti terowongan dan danau-danau, dimana ikan-ikan kecil akan berlalulalang.

Malam pekat larut dalam sepi. Tubuh Runduma tergeletak di kursi. Kopi hitam masih tersisa setengah. Lantunan ayat-ayat suci dari suara merdu Maimunah sudah tiada. Dalam kamarnya yang sempit, Maimunah pun terbaring. Mukenah berwarna kuning masih melekat di tubuhnya yang kerdil. Malam menidurkan Runduma dan Maimunah dengan tubuh yang tergeletak serampangan.

Keesokan harinya, saat kokok ayam menggelitik telinga, Runduma bergegas ke pinggir laut. Sapu tangan hitam miliknya masih menancap di ujung karang yang tajam. Kain itu akan menyekah keringat dan air matanya. Lelaki tua itu lalu duduk di sana hingga petang ia jumpai sama persis dengan hari-hari sebelumnya. Ikan-ikan masih terus bertarung saling memakan. Ada yang terbang ke langitlangit. Sebagian berjejer lalu melesat serentak menghilang dari pandangan.

***

Sudah sebulan, Runduma begitu. Duduk seharian di pinggir laut dan tertidur di mana pun tubuhnya terakhir kali bersandar dalam renung sehabis makan malam. Sementara Maimunah hanya bisa mengurung diri di rumahnya. Sebuah foto masa kecil anaknya di peluknya erat-erat. Runduma memang masih punya harapan, dari samudera yang biru itu, sayup-sayup bisa mendengar bising perahu kedua anaknya. Lalu, ia akan bergegas menjemput, bila perlu membantu anak-anaknya mengangkat box berisi ikan hasil tangkapan.

Sanuri dan Kundura kedua anaknya itu sudah sebulan menghilang. Tidak saja jasad keduanya yang belum ditemukan, bangkai kapalnya pun entah kemana. Menurut informasi dari petugas pencarian orang, kapal nelayan itu kemungkinan tergiring badai tiba-tiba karena melaut terlampau jauh. Bahaya! Petugas pencari korban memperingatkan bahwa para nelayan dilarang melaut ke laut lepas. Meski ini kemarau dan gelombang laut tenang? Meski air laut pasang hingga berbulan-bulan. Tapi, kemanakah jasad Sanuri dan Kundura? Bagaimana mungkin, sebuah badai di musim kemarau bergelayut ganas?

Warga kampung nelayan di desa Paramunta memang dilanda khawatir yang sangat. Kapal Kundura dan Sanuri, bukanlah korban yang pertama. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, sudah puluhan kapal-kapal nelayan menghilang tanpa bekas. Belum pernah ada kabar pasti mengenai semua kejadian itu. Dan tak satu pun dari kapal nelayan yang dikabarkan menghilang, lalu kembali dengan selamat.

Warga desa menduga kalau bencana ini disebabkan oleh mengamuknya penghuni dasar laut. Konon, di hamparan samudera penuh misteri itu, memang hidup beragam mahluk halus yang bertugas menjaga keberlangsungan hidup biota laut terutama ikan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2