Langkai, Pulau Mungil di Makassar dan Dinamika Kehidupan Nelayannya

Klikhijau.com – Pulau selalu identik dengan nelayan ulung yang menjadikan aktivitas melaut sebagai profesi dan sumber mata pencahariannya, namun mendengar kata nelayan di pulau kecil, imajinasi kita m...

Langkai, Pulau Mungil di Makassar dan Dinamika Kehidupan Nelayannya
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pulau selalu identik dengan nelayan ulung yang menjadikan aktivitas melaut sebagai profesi dan sumber mata pencahariannya, namun mendengar kata nelayan di pulau kecil, imajinasi kita mudah dihinggapi bayangan destinasi wisata yang penuh keindahan dan kenyamanan.

Keindahan itu benar adanya di pulau seluas 27 hektare, potretnya dipastikan dapat memanjakan siapapun pengunjung pemukiman yang dihuni masyarakat bersuku Makassar, Bugis dan Mandar dengan rerimbunan kelapa, putihnya pasir di bibir pantai. Mengunjungi Pulau yang dikelilingi air yang begitu jernih dan keindahan bawah lautnya tanpa tarif retribusi alias gratis.

Tak hanya itu, masyarakat yang masih kental dengan budaya gotong royong dan menjunjung tinggi rasa kekeluargaan, menjadi penguat alasan untuk mengunjungi Langkai.

Pulau Langkai dan nelayannya

Mengunjunginya di momen peringatan Hari Nelayan Nasional, bersambut panorama indah yang tak hanya di daratan tapi juga lautnya, mengayun lengan melangkahkan kaki menuju rumah Ketua RW Langkai, melewati beberapa rumah yang di kolomnya tampak ibu rumah tangga membuat kue menyambut senyum sumringah.

Momen berada di tengah sekumpulan nelayan mendengarkan cerita yang mungkin tak sempat dijamah imajinasi dan sesuatu yang tak semua orang melihatnya, baik kondisi dalam kehidupan masyarakat maupun kondisi para nelayan.

Melihat semangat pendidikan atau menggali pengetahuan masyarakat Langkai tentu tak tertinggal—itu terlihat saat diskusi. Mereka diam dalam menyimak, namun antusiashal baru adalah pemandangan saat berdiskusi. Secara khusus pendidikan formal di pulau tersebut telah berdiri Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), tapi tidak dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Para siswa yang melanjutkan ke jenjang SMA mesti menyeberang ke Pulau Barrang yang memerlukan waktu sekira satu jam menggunakan perahu dan beberapa memilih SMA di Kota Makassar.

Hal tersebut disokong oleh fasilitas kesehatan berupa Puskesmas Bantu (Pustu) sebagai instrumen penting untuk menjamin hak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan.

[caption id="attachment_28088" align="alignnone" width="469"]langkai Suasana diskusi dengan nelayan di Pulau Langkai - Foto: Ist[/caption]

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2