Kisah Sampah yang Menghuni Sepanjang Jalan Nusantara

Klikhijau.com – Setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri. Perjalanan saya hari ini, Selasa, 19 Februari 2019 dari Kecamatan Mallawa, Maros menuju Sungguminasa, Gowa. Selain meninggalkan rasa cap...

Kisah Sampah yang Menghuni Sepanjang Jalan Nusantara
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)  Djati Witjaksono Hadi seperti yang pernah dimuat di Kompas.com 22 November 2018 lalu menyampaikan,  saat ini sampah paling dominan di Indonesia adalah sampah organik.

Sampah sisa makanan dan tumbuhan itu tercatat sebesar 50 persen.

"Komposisi sampah plastik di Indonesia saat ini sekitar 15 persen dari total timbulan sampah, terutama di daerah perkotaan," kata Djati

Data yang ada tersebut menunjukkan dalam 10 tahun terakhir, banyaknya sampah plastik terus meningkat.

"Sumber utama sampah  plastik berasal dari kantong belanja, kemasan consumer goods, kemasan makanan dan minuman, serta pembungkus barang lainnya," lanjutnya

***

Kemarin pagi, 18 Februari 2019, saya dari Desa Kindang, Kab. Bulukumba bergerak menuju Sinjai, terus ke Kab. Bone melalui jalur Desa Sanrego, Kec. Kahu dan berakhir di Kecamatan Mallawa, Maros.

Pemandangan yang saya dapatkan tetap sama seperti hari ini. Sampah yang berserakan di pinggir jalan tetap tertangkap pandangan.

Mirisnya, sampah yang saya lihat itu didominasi sampah plastik. Mulai pembungkus krupuk hingga botol dan gelas mineral dan tentu ada juga bekas minuman kaleng yang sulit terurai dalam tanah.

Tidak heran jika Indonesia adalah penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Menurut Djati Witjaksono Hadi seperti yang dimuat di Kompas.com dari total timbulan sampah plastik tersebut, hanya sekitar 10-15 persen yang didaur  ulang.

Sementara 60-70 persen ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) dan 15 persen-30 persen belum terkelola.

Dari 15- 30 persen sampah plastik yang belum terkelola ini berakhir terbuang ke lingkungan, terutama ke sungai, danau, pantai, dan  laut

"UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya perubahan yang  mendasar dalam pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan. Sesuai Pasal 19 UU tersebut, pengelolaan sampah dibagi dalam  dua kegiatan pokok," tambahnya.

Dua kegiatan pokok yang dimaksud adalah pengurangan sampah dan penanganan sampah. Tiga aktivitas utama dalam kegiatan pengurangan sampah antara lain pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah dan  pemanfaatan kembali sampah.

"Ketiga kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari prinsip pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan," lanjut Djati.

Lima aktivitas utama dalam kegiatan penyelenggaraan kegiatan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah.

Djati mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan penanganan sampah semestinya dilakukan dengan baik. Sehingga dampak terhadap lingkungan dan gangguan terhadap kesehatan yang timbul  dapat diminimalisasi.

Ia mengaku  kondisi penanganan sampah saat ini masih jauh dari harapan.

***

Cerita perjalanan saya dan sampah dalam dua hari ini, bisa kamu buktikan kebenarannya. Jika sedang berkendara atau bebergian  cobalah perhatikan di sisi kiri atau kanan jalan.

Saya yakin, apa yang saya lihat kamu akan melihatnya pula. Sampah yang berserakan di pinggir jalan sangat mudah kita temukan, di jalan mana pun di nusantara ini, apalagi jika itu di jalan poros.

Orang yang membuang sampah di pinggir jalan barangkali tak tahu jika bumi membutuhkan waktu yang lama untuk “menaklukkan” sampah.

Sampah organik misalnya, atau sampah yang berasal dari bahan alami seperti sayur, kulit buah, dan lain-lain akan hancur dalam  hitungan hari atau minggu. Atau paling tidak kurang dari satu bulan.

Sementara sampah kertas akan terurai dalam waktu dua  sampai enam bulan.

Sementara kantong plastik biasa membutuhkan waktu sepuluh sampai 12 tahun untuk terurai.

Botol plastik lebih lama lagi. Karena  polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur.

Sedangkan sterofoam  membutuhkan waktu 500 tahun untuk bisa hancur sempurna

Menurut geokimiawan organik dari Stanford University, Kenneth Peters, alam   tidak pernah membuat hal semacam itu, sehingga tidak ada organisme di muka bumi yang dipersiapkan untuk menangani masalah  plastik.

Lakukanlah perjalanan dan selamat menemukan kisah sampah di sepanjang jalan nusantara!. Oya, kata-kata “sepanjang jalan nusantara”, saya pinjam dari judul buku Andhika Mappasomba yang segera terbit.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2