Ketika Limbah Kulit Pisang Berubah Jadi Masker di Tangan Mahasiswa

Klikhijau.com - Protilusi atau Produk Anti Polusi jadi nama untuk melabeli masker kulit pisang. Masker itu diciptakan oleh  lima mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak. Kelimanya beras...

Ketika Limbah Kulit Pisang Berubah Jadi Masker di Tangan Mahasiswa
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Klikhijau.com - Protilusi atau Produk Anti Polusi jadi nama untuk melabeli masker kulit pisang. Masker itu diciptakan oleh  lima mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.

Kelimanya berasala dari lintas fakultas. Mereka memanfaatkan limbah kulit pisang menjadi filter karbon aktif.  filter karbon itu sebagai satu di antara bahan baku untuk membuat masker yang bebas polusi.

Bahan yang dipilih kelimanya menjadi bahan masker termasuk melimpah. Ini mengingat pisang merupakan buah yang banyak tumbuh di Indonesia. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai produsen pisang dunia. Indonesia telah memproduksi pisang sebanyak 6,20% dari total produksi dunia, 50% produksi pisang (Afriandi dkk, 2018).

Sementara  Arif Hartono dkk, (2018) mengungkapkan, tanaman pisang merupakan tanaman holtikultura yang menjadi salah satu bahan ekspor yang baik dan sangat potensial bagi negara. Di samping itu pisang juga merupakan jenis tanaman yang setiap saat berbuah tanpa ada istilah musim.

Tanaman pisang dapat dikatakan sebagai tanaman serbaguna. Baik akar, umbi (bonggol), batang, daun sampai kulitnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Limbah kulit pisang selama ini hanya terbuang begitu saja, meski sebenarnya banyak manfaatnya, termasuk dalam hal kesehatan.

Menurut  Afriandi dkk  (2018) limbah kulit pisang mengandung zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Ekstrak kulit pisang mengandung antioksidan cukup tinggi dengan aktivitas 95,14%. Kandungan antioksidan pada ekstrak kulit pisang sangat bermanfaat bagi tubuh.

Upaya menyelamatkan lingkungan

Pemilihan kulit pisang menjadi masker oleh kelompok yang diketuai Lestia Wahyuni dari Fakultas Kedokteran, Vanie dan Dian Novita dari fakultas yang sama, Sendi Fadrul Rahman dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Tivany Belancia dari Fakultas Teknik   bukan tanpa alasan.

Pemilihan itu  merupakan upaya kelima mahasiswa tersebut  untuk mengurangi limbah terutama kulit pisang di Pontianak yang berpotensi mencemari lingkungan. Apalagi  banyak  masyarakat, pedagang pisang goreng tradisional bahkan pisang goreng kekinian yang selama ini hanya membuang begitu saja limbah kulit pisang tanpa diolah lebih lanjut.

Karena itu, kelompok ‘kecil’  ini memanfaatkannya menjadi bahan masker untuk  menyelamatkan lingkungan. Hasilnya  karya tersebut mengantarkan mereka masuk nominasi dalam Lomba Masker Kreatif Pontianak 2020.

"Jadi, konsep masker kami itu memadukan filter karbon aktif  dari limbah kulit pisang dengan masker kain pada umumnya. Namun, yang membuat konsep kami beda dari yang lain yaitu kami memadukan desain masker dengan kain khas melayu Kalbar yaitu kain tenun corak insang dengan sedikit tambahan manik manik agar lebih estetik," ujar Lestia seperti  dikutip dari Antara.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2