Investigasi Bersama Ungkap Kegagalan Skema Plastic Credit Atasi Polusi Plastik di Indonesia

Klikhijau.com - Plastic credit adalah skema kompensasi (offset) sampah plastik, di mana perusahaan memberikan pendanaan kepada proyek pengumpulan, pengelolaan, atau daur ulang sampah plastik untuk “me...

Investigasi Bersama Ungkap Kegagalan Skema Plastic Credit Atasi Polusi Plastik di Indonesia
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Plastic credit adalah skema kompensasi (offset) sampah plastik, di mana perusahaan memberikan pendanaan kepada proyek pengumpulan, pengelolaan, atau daur ulang sampah plastik untuk “mengimbangi” jumlah plastik yang mereka hasilkan.

Upaya ini dianggap bisa jadi salah satu solusi menangani sampah plastik di Indonesia. Namun, Koalisi organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari WALHI Jawa Timur, ECOTON, dan PPLH Bali menemukan hal lain dalam proyek ini.

Dari hasil investigasi yang mereka lakukan terungkap  bahwa skema yang diklaim sebagai solusi inovatif untuk krisis plastik justru menyimpan berbagai persoalan mendasar, mulai dari kegagalan operasional hingga dampak lingkungan dan kesehatan.

“Skema Plastik kredit merupakan solusi semu dalam penyelesaian persoalan pengelolaan sampah, khususnya plastik. Skema ini tidak menyentuh akar permasalahan utama dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Produsen masih memiliki keleluasaan untuk terus memproduksi tanpa pengawasan ketat dari pemerintah yang pada akhirnya mendorong pengabaian tanggungjawab atas dampak produk yang dihasilkan,” ujar Pradipta Indra Ariono - Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur.

Tiga Proyek Besar dalam Sorotan

Dalam investigasi ini, koalisi menelusuri tiga proyek besar yang terdaftar dalam Standar Pengurangan Sampah Plastik Verra, yakni Project STOP di Banyuwangi, proyek Danone-AQUA/Reciki di TPST Samtaku Jimbaran, Bali, serta proyek SEArcular–Greencore di wilayah Gresik dan Surabaya. Ketiga proyek ini menjual kredit plastik kepada korporasi global sebagai bentuk kompensasi atas produksi plastik mereka, sekaligus membangun narasi bahwa polusi plastik dapat “dinetralkan” melalui mekanisme pasar.

Namun temuan di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Di Banyuwangi, Project STOP yang sejak awal dipromosikan sebagai model ekonomi sirkular justru mengalami penurunan drastis setelah pendanaan eksternal berakhir. Fasilitas pengelolaan sampah yang sebelumnya dibangun tidak lagi beroperasi optimal, infrastruktur rusak dan tidak terawat, serta kapasitas layanan menurun signifikan. Proyek yang menargetkan perluasan layanan hingga ratusan ribu penduduk ini tidak memiliki skema pembiayaan berkelanjutan dan tidak terintegrasi dalam anggaran pemerintah daerah.

“Skema ini mencerminkan keberhasilan yang bersifat semu, karena indikator keberhasilannya lebih bersifat administratif daripada ekologis. Perusahaan dapat mengklaim keberhasilan tanpa benar-benar mengurangi produksi plastik. Dengan demikian, sumber utama permasalahan - yakni tingginya produksi plastik - tidak tersentuh dalam skema ini” ujar Pradipta Indra Ariono - Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur.

Dampak Nyata di Lapangan antara Lingkungan dan Kesehatan

Situasi serupa juga ditemukan di lokasi lain. Di Bali, fasilitas TPST Samtaku di Jimbaran yang menjadi bagian dari proyek Reciki justru memicu protes warga akibat bau menyengat, pencemaran lingkungan, serta dugaan gangguan kesehatan. Fasilitas tersebut bahkan akhirnya ditutup setelah mendapat penolakan dari masyarakat. Sementara di Gresik dan Surabaya, praktik pengelolaan plastik yang tidak memiliki nilai ekonomi cenderung berujung pada pembakaran terbuka atau diolah menjadi bahan bakar seperti RDF (Refuse-Derived Fuel), yang berpotensi menghasilkan emisi berbahaya seperti dioksin dan furan.

“Kasus TPST Samtaku harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah bahwa pengelolaan sampah yang tidak matang berisiko gagal serta mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Peristiwa ini perlu dijadikan pembelajaran agar tidak terulang di daerah lain. Praktik pembakaran dan RDF yang berpotensi menghasilkan emisi berbahaya harus segera dievaluasi dan dihentikan, dengan beralih pada sistem pengelolaan yang lebih aman dan berkelanjutan,” ujar Catur Yuda Hariyani – Direktur PPLH Bali.

Pola Masalah yang Berulang

Secara umum, investigasi ini menemukan bahwa proyek-proyek plastic credit memiliki pola yang sama, yaitu sangat bergantung pada pendanaan eksternal, tidak dirancang untuk berkelanjutan secara finansial, serta hanya berfokus pada pengelolaan sampah di hilir tanpa menyentuh akar masalah produksi plastik yang terus meningkat. Plastik bernilai rendah seperti sachet dan multilayer tetap tidak tertangani secara memadai, sehingga pada akhirnya dibakar atau dibuang ke lingkungan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2