Dear Para Pemaku Pohon, Kalian Membunuh Masa Depan!

Klikhijau.com – Pemilu 2024 sudah dekat. Bulan-bulan terakhir ini, pepohonan jadi sasaran para politikus. Di sepanjang jalan, poster-poster dengan ragam ukuran menempel erat di pepohonan. Sebagian bes...

Dear Para Pemaku Pohon, Kalian Membunuh Masa Depan!
Bacakan Artikel

Pohon dan cinta

Pohon butuh cinta, penghargaan. Karenanya, Ia perlu dijaga sebagai sebuah sistem. Dalam struktur tubuhnya ada jaringan-jaringan yang saling terhubung, memaku batangnya berarti merusak kambium—suatu bagian yang amat rentan. Bila paku dari besi kemudian menancap dan berkarat di tubuhnya, akan ada lubang yang memungkinkan semut dan rayap-rayap berkelindan. Pohon akan keropos perlahan, lalu tumbang. Mati.

Bayangkan, apa bedanya dengan tubuh manusia yang ditusuk paku secara sengaja?

Luka pada pohon karena ulah para pemaku adalah satu sisi, katakanlah dari aspek ekologisnya. Sampai di sini, jelas tiada perdebatan lagi. Pohon tak selayaknya dipaku, dilukai.

Maka politikus yang memasang poster dirinya dengan memaku pohon adalah tindakan barbar. Paradoksal. Bagaimana mungkin ada pemimpin dan wakil-wakil kita di parlemen yang tabiatnya barbar dan buta hati?

Para pemaku pohon boleh jadi kehilangan daya cinta, ini dari aspek makna. Dalam fenomena sosial yang kompleks, makna-makna terselubung di balik realitas. Tugas kita tentu menangkap makna di baliknya agar kita memahami esensinya.

Seperti sebuah nukilan, barangsiapa yang menjaga alam, maka alam akan menjaganya pula. Sebaliknya, kerusakan di muka bumi tak lain adalah ulah manusia itu sendiri. Defisit empati dan daya cinta pada tetumbuhan adalah wajah kepemimpinan kita yang abai terhadap isu-isu keberlanjutan (sustainability).

Pantas saja, semakin kesini semakin terang benderang, bagaimana kebijakan (policy) sangat permisif pada investasi. Tanpa memandang seberapa besar dampak lingkungan dari investasi tersebut, semua bisa berjalan atas nama pembangunan. Jangan-jangan karena konstruksi politik dan demokrasi kita kehilangan daya cinta. Mati rasa!

Politik yang berpihak

Kembali ke topik awal mengenai pohon-pohon yang dipaku, apakah mereka tidak tahu bahwa melukai pohon itu tidak etis? Rasanya tidak juga. Saya yakin, mereka sangat memahami betapa pohon tidak boleh dipaku. Selain itu, regulasi mengenai pelarangan pemasangan alat kampanye pada pepohonan juga sangat jelas telah tertuang dalam PKPU nomor 15 tahun 2013 pasal 17. Para calon peserta Pemilu, tentu sudah harus mematuhinya.

Maka sudah saatnya kita memberi hukuman sosial pada para pemaku pohon. Bila ia politikus, bolehlah kita garis merah sama-sama. Kita jadikan satu poin ini sebagai syarat utama calon wakil kita di parlemen atau di pemerintahan: tidak memaku pohon.

Setelah itu, tugas kita bersama adalah mengawasinya. Catat dan bila perlu kampanyekan para politikus pemaku pohon tersebut sebagai yang kurang layak dipertimbangkan.

Selanjutnya, tugas penyelenggara Pemilu tentu haruslah tegas pula. Harus ada sanksi yang tegas dan tak tebang pilih. Ini penting agar drama ini tidak jadi parodi yang terus berulang di setiap momen politik.

Pendeknya, kita menghendaki politikus yang berpihak pada lingkungan hidup, pada keberlanjutan, pada pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan. Untuk tugas besar ini rasanya mustahil tumbuh dari politikus bermental barbar memaku pohon.

Dear para politikus, jangan menusuk kami dari belakang dengan memaku pohon!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2