Data <em>Real Time</em> KLHK Ungkap Kualitas Udara di Kota Jakarta

Jakarta, Klikhijau.com - Indeks kualitas udara kota Jakarta tidaklah yang terburuk di Asia Tenggara. Bahkan selama Januari-Februari 2019 berdasarkan pantauan data KLHK menunjukkan bahwa kualitas udara...

Data <em>Real Time</em> KLHK Ungkap Kualitas Udara di Kota Jakarta
Bacakan Artikel

Jakarta, Klikhijau.com - Indeks kualitas udara kota Jakarta tidaklah yang terburuk di Asia Tenggara. Bahkan selama Januari-Februari 2019 berdasarkan pantauan data KLHK menunjukkan bahwa kualitas udara di Jakarta semakin baik dibanding tahun 2018.

Informasi mengenai data tersebut menjadi penting untuk disampaikan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut. Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) M.R. Karliansyah saat menggelar jumpa pers dengan awak media di Jakarta (12 Maret 2019).

Karliansyah menerangkan, KLHK sudah memiliki jaringan pemantau kualitas udara yang terus diupdate secara real time dan kontinyu di 14 kota.

"Saat kita mengkoneksikan dengan sistem yang dimiliki oleh BMKG, pemerintah daerah, termasuk dengan swasta juga, kita memiliki 54 stasiun pemantauan di seluruh Indonesia."

Sebelumnya, IQAir AirVisual menerbitkan laporan World Air Quality Report 2018 dan menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara.

Laporan tersebut menggunakan metode pengukuran indeks kualitas udara dengan menghitung konsentrasi rata-rata tahunan particulate matter (PM) 2,5. Batas aman tahunan yang digunakan pada laporan tersebut mengacu kepada standar World Health Organization (WHO) sebesar 10 g/m3.


KLIK INI: Tahap Kedua “Sumatera Wide Tiger Survey” Diluncurkan, Begini Target KLHK

KLIK INI: KLHK Harapkan Ini Terhadap Vonis Pembunuh Harimau Bunting di Riau


Menurut Karliansyah, batas aman tahunan yang digunakan WHO tersebut berbeda dengan baku mutu udara ambien nasional tahunan yang digunakan KLHK sebesar 15 g/m3.

"Di dunia ini, tidak ada satu kota metropolitan pun yang memiliki indeks kualitas udara tahunan mencapai 10 g/m3 dengan PM 2,5 sesuai standar WHO tersebut," ujar Karliansyah.

Sementara itu, stasiun pemantau kualitas udara ambien yang dimiliki KLHK menggunakan parameter yang lebih lengkap yaitu PM 10, PM 2,5, CO, O3, NO2, HC dan SO2. Variabel metrological yang digunakan pun terhitung lengkap seperti kecepatan dan arah angin, radiasi solar, temperatur udara, tekanan udara, curah hujan, serta kelembapan udara.

"Jadi, Air Quality Management System (AQMS) yang dimiliki KLHK menggunakan metode pengukuran yang lebih komplek dan real time," jelas Karliansyah.

Berdasarkan data KLHK, kualitas udara kota Jakarta berdasarkan indeks PM 2,5 selama tahun 2018 antara lain terdapat 34 hari dengan kondisi udara baik (warna hijau), 122 hari dengan kondisi udara sedang (warna biru), dan 196 hari sisanya berada dalam kondisi tidak sehat (warna kuning). Tidak ada satu hari pun pada tahun 2018 kota Jakarta memiliki kondisi udara sangat tidak sehat (warna merah).

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2