Bahaya, Sampah Antariksa Mengancam Bumi?

Klikhijau.com - Dunia antariksa sangat penting dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Mulai dari alat untuk mengoperasikan satelit, sinyal ponsel, sinyal televisi, pemantauan bencana hi...

Bahaya, Sampah Antariksa Mengancam Bumi?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Empat teknologi kunci akan diuji coba, kata Guglielmo Aglietti, direktur Pusat Antariksa Surrey di Inggris, yang mengoordinasikan misi tersebut. Teknologi ini antara lain sistem navigasi visual, jaring dan harpun untuk menangkap sampah, dan semacam layar untuk melambatkan sampah dan mengubah orbitnya sehingga jatuh ke atmosfer Bumi.

Ini beberapa cara para pakar yang dilakukan untuk mengurangi sampah antariksa yang ada. Sehingga nantinya akan bisa menanggulangi bahaya di bumi.

Jika REMOVEdebris sukses, ini akan menjadi awal misi lainnya. "Kita bisa menunjukkan bahwa pembersihan sampah antariksa bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi berbiaya relatif rendah," kata Aglietti, "dan karena itu kami berharap perusahaan swasta dapat mengikuti dan melakukan pembersihan sampah yang memberikan ancaman paling tinggi,” dikutip dari bbc.com/Indonesia.

Senada dengan itu, ahli astrofisika Dr. Hauke Fiedler menjelaskan: "Jika sampah luar angkasa tidak disingkirkan, maka suatu saat akan terjadi ledakan dashyat dari benda-benda tersebut. Saat ini ada sekitar 28.000 bagian dari satelit dan roket yang melayang di orbit bumi. Suatu saat jumlahnya akan semakin banyak dan sulit bagi satelit untuk bisa mengitari orbit,” dikutip dari dw.com/Indonesia.

Menguji teknologi pada serpihan sampah simulasi yang terkontrol adalah langkah yang penting. Tahap selanjutnya, yaitu menggunakan teknologi pada sampah betulan yang tidak terkendali, akan lebih kompleks dan badan antariksa Eropa Esa mengusulkan kepada negara-negara anggotanya untuk meluncurkan misi bernama e.deorbit pada akhir 2019.

"E.deorbit akan menunjukkan bahwa kami dapat menyingkirkan obyek tak terkontrol dari orbit dengan aman," kata Holger Krag, kepala divisi sampah antariksa Esa. "Obyek tersebut bisa jadi satelit Esa yang tak lagi berfungsi dan tak lagi merespon komando dari darat. Untuk pertama kalinya, kami akan menerapkan teknologi ini untuk menyasar satelit betulan."

Langkah-langkah itu harus tetap didukung untuk mengurangi bahaya sampah antariksa yang sampai saat ini memang masih belum terasa tetapi akan berdampak di masa yang akan datang.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2