11 Tips Sederhana Merdeka dari Kepungan Polusi Udara

Klikhijau.com - Dampak buruk polusi udara bagi kesehatan. Bukan sebuah mitos. Dampaknya tidak hanya mengganggu sistem pernapasan. Lebih dari itu. Polutan yang terkandung di dalam polusi udara dapat...

11 Tips Sederhana Merdeka dari Kepungan Polusi Udara
Bacakan Artikel

Namun, olahraga perlu dilakukan di dalam ruangan.



  • Bernapas lewat hidung



Ada dua saluran napas, yakni hidung dengan mulut. Saat polusi udara kurang sehat, dr. Meryl Kallman menyarankan agar bernapas melalui hidung dan menggunakan masker.

Menurutnya, hidung  merupakan 'air purifier' alami manusia. Hidung memiliki sistem penyaringan alami berupa bulu hidung.

"Kalau harus beraktivitas di luar, sebaiknya gunakan masker respirator, seperti N95. Lalu, perlu diingat untuk bernapas lewat hidung karena hidung semacam 'air filter' (penyaring udara) bawaan," sarannya.

"Kalau tarik napas, kita harus tarik napas lewat hidung. Kalau napas lewat mulut, itu lebih banyak polusi yang bisa masuk ke paru-paru," lanjutnya.



  •  Gunakan air purifier tambahan



Cara lain untuk merdeka dari polusi udara adalah menggunakan penyaring udara atau air purifier di dalam ruangan.

Polusi udara dalam ruangan jangan disepelekan, sebab, terbukti lebih tinggi bila dibandingkan dengan polusi di luar ruangan.

"Penggunaan air purifier di dalam ruangan sangat direkomendasikan karena bisa menyaring polutan di udara, apalagi jika semua hal tersebut (polutan) berada di satu ruangan tanpa ventilasi," ujar dr. Meryl Kallman.



  • Menutup jendela kendaraan dan rumah



Apabila bepergian keluar rumah dan menggunakan mobil. Ada baiknya menutup jendela mobil rapat-rapat.

Hindari merokok di dalam kendaraan. Dan apabila menggunakan kendaraan roda dua, sebaiknya menggunakan masker.

Sedangkan saat berada di rumah, tutuplah jendela rapat-rapat agar polusi udara dari luar tidak menerobos masuk.



  •  Memantau kualitas udara secara berkala



Agar tidak menerka-nerka apakah kualitas udara baik atau buruk. Baiknya polusi udara meski dipantau secara berkala.

Memantau kualitas udara sangat penting untuk dilakukan, terutama bagi mereka yang banyak memiliki mobilitas di luar ruangan.

Saat ini banyak aplikasi pemantau udara bisa digunakan, misalnya IQAir, Nafas, UdaraKita, Air Quality, BreezoMeter, dan berbagai aplikasi lainnya.



  • Mengurangi aktivitas di luar ruangan



Prof DR Dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menyarankan menghindari  beraktivitas di luar ruangan saat udara memburuk.

"Penting mengukur kualitas udara secara berkala. Kalau (PM2.5) di bawah standar WHO itu 15 sudah bagus, tidak ada masalah. Tapi kalau nilai PM-nya 30, 40, 50 itu tidak bagus buat kesehatan. Pasti muncul gejala iritasi," paparnya Prof Agus dikutip dari haibunda.



  • Bersihkan rumah secara rutin



Jangan mengira polusi hanya terjadi di luar ruangan. Di dalam ruangan pun terdapat polusi udara. Karena itu, perlu membersihkan rumah secara rutin.



  • Tidak menyalakan sumber api



Partikel rokok adalah salah satu sumber polusi di dalam ruangan. Karena itu, ruangan perlu steril dari asap rokok.

Selain itu, penting pula menghindari agar tidak sumber api, misalnya membakar sampah, lilin atau sumber api lainnya. Apalagi jika rumah tidak didukung oleh ventilasi udara yang cukup.



  • Pantau kondisi kesehatan secara berkala



Udara yang buruk akan memberi dampak kesehatan yang buruk pula. Karena itu, Prof DR Dr Agus Dwi Susanto menyarankan agar memantau kondisi kesehatan secara berkala.

"Pada orang dengan penyakit sebelumnya seperti PPOK, asma, jantung, dan penyakit paru lainnya, harus mengenali tanda-tanda perburukan atau serangan," ucap Prof Agus.

"Penyakit asma pada orang yang belum memiliki asma, karena terkena polusi bisa jadi asma. Sedangkan yang sudah asma, bisa makin parah. Ketika ozon dan polusi meningkat, akan meningkatkan jumlah serangan asma. Remaja di Jakarta jumlah penderita asmanya lebih tinggi daripada di pedesaan," bebernya.



  • Segera tangani gejala yang muncul



Saat ada gejala yang muncul, Prof DR Dr Agus Dwi Susanto menyarankan pula agar ditangani secepatnya.  Ada beberapa gejala. Gejalah itu bisa berupa hidung berair, mata merah dan tersumbat dan gatal

Untuk  saluran napas atas, gejalanya bisa berupa sakit tenggorokan, batuk, dan gatal tenggorokan. Sedangkan untuk saluran napas bawah dapat menyebabkan batuk berdahak, sesak napas yang dapat jadi pemicu ISPA.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2